Halaman
Pendiri
Kiai Abdullah bin Husain - Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar
Kiai Abdullah berasal dari keluarga sederhana dan taat dalam menjalankan syari'at agama. Berada di lingkungan keluarga yang sangat religius, secara tidak langsung ikut membentuk karakter dan kepribadiannya. Pada bagian bab ini, akan membahas riwayat hidup Kiai Abdullah, mulai dari masa kecil, pendidikan, kepribadian hingga keagamaannya.
Kiai Abdullah lahir pada tanggal 12 November 1917 M./26 Muharram 1336 H. di Desa Pangarangan, yang jaraknya sekitar 2 KM dari pusat Kota Sumenep. Beliau lahir dari pasangan Husein bin Sholeh dan Aisyah binti Mustafa Baharun. Kiai Abdullah berasal dari keluarga yang sederhana dan sangat taat menjalankan perintah agama. Beliau adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Mereka adalah Mohammad Sholeh Wiryodiharjo, Halimah, Abdullah, Abdul Aziz dan Khatijah. Sejak lahir, Kiai Abdullah tinggal bersama saudara-saudaranya di Desa Pangarangan.
Kiai Abdullah lahir pada tanggal 12 November 1917 M./26 Muharram 1336 H. di Desa Pangarangan, yang jaraknya sekitar 2 KM dari pusat Kota Sumenep. Beliau lahir dari pasangan Husein bin Sholeh dan Aisyah binti Mustafa Baharun. Kiai Abdullah berasal dari keluarga yang sederhana dan sangat taat menjalankan perintah agama. Beliau adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Mereka adalah Mohammad Sholeh Wiryodiharjo, Halimah, Abdullah, Abdul Aziz dan Khatijah. Sejak lahir, Kiai Abdullah tinggal bersama saudara-saudaranya di Desa Pangarangan.
Sepeninggal kedua orang tuanya, Kiai Abdullah muda sangat dekat dengan kakak perempuannya yang bernama Halimah. Kedekatan keduanya tidak hanya terjalin sebatas antara kakak dan adik atau ikatan keluarga semata, namun keduanya juga banyak menghabiskan waktu bersama untuk memperdalam ilmu-ilmu agama yang diperoleh kiai Abdullah selama belajar kepada guru-gurunya. Bahkan teks- teks pidato Ny. Halimah yang membuatkan adalah Kiai Abdullah.
Kehidupan sehari-hari Kiai Abdullah sangat dekat dengan ilmu agama Islam, dan hal ini juga tidak lepas dari peran Ayah dan Ibunya yang telah membentuk kepribadian masa kecil kiai Abdullah. Peran dari kedua orang tua yang sholeh telah ikut menentukan sisi kepribadian dan kehidupan Kiai Abdullah. Kasih sayang dan bakti kiai Abdullah kepada kedua orang tuanya ikut diteladani oleh putra-putrinya. Keta'dziman Kiai Abdullah yang luar biasa kepada guru serta ketekunannya dalam menuntut ilmu, ikut membentuk kepribadian anak cucu beserta keturunannya yang 'alim, hingga menjadi tolok ukur karakter seorang santri, dan hal tersebut juga telah memberi nilai tersendiri terhadap corak keilmuan di pondok pesantren Mathali'ul Anwar, Pangarangan, Sumenep.
Ghirah dari sang pendiri tetap dijaga hingga saat ini, dilanjutkan oleh putranya yang bernama, Kiai Mohammad Sa'id Abdullah. Jauh hari sebelum Kiai Abdullah wafat di usianya yang ke- 67 tahun, tepatnya pada hari Sabtu, tanggal 29 Juni 1984 M/ 29 Ramadhan 1404 H. Kiai Abdullah sudah mempersiapkan Kiai Mohammad Sa'id sebagai penerus dan pengasuh Pondok pesantren Mathaliul Anwar.
Kiai Abdullah diangkat oleh gurunya, Kiai Miftahul Arifin, sebagai mudin (pembantu penghulu), sekitar tahun 1930. Kiai Abdullah menjalani pekerjaanya itu sambil morok (mengajar) para santrinya. Meskipun pada suatu masa, beliau harus pindah tugas dan menetap hingga masa jabatannya sebagai kepala KUA di kecamatan Kalianget selesai. Kiai Abdullah tercatat dalam jumlah masa kerja dari tanggal 12-04-1945 s/d tanggal 1-1-1969.n, perjalanan dakwah, serta nilai-nilai dasar yang diwariskan kepada generasi santri.