INDONESIA DIUJUNG TANDUK KEMARAU

Indonesia merderka bagimu, kecewa bagiku, Terlihat sejenak tengtang satu bait puisi yang sangat banyak menyimpan beberapa pertanyaan tengtang sebenarnya Indonesia yang sangat dikenal dengan sebutan NKRI ini. Kemerdekaan Indonesia ini yang telah lama menjadi Negara dan Bangsa serta berdaulat dengan dirinya sendiri sangat patut dicurigai keberdaulatannya. Biasanya pertanyaan yang sering kali akrab ditanyakan dikalangan pemuda apakah Negara ini sudah benar-benar murni merdeka yang berdaulat secara mandiri sekaligus menjalankan terhadap asas-asas idiologi pancasila yang bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika.

perjuangan-santri

Lantas pergerakan apa yang dilakukan oleh pemuda dan orang tua yang masih memengang tampuk kekuasaan saat ini, Berbicara Negara kesatuan Republik Indonesia ini, sama halnya berbicara pemuda didalamnya, Khususnya mahasiswa yang dikenal dengan sosok pemuda yang gagah dan berani, apalagi pemuda sekarang yang akan menentukan atas terwujudnya Indonesia emas pada tahun 2045. Namun pertanyaanya adalah pemuda seperti apa yang bisa mewujudkan impian itu, pada realitanya pemuda saat ini sudah sangat apatis dan pragmatis, Lebih-lebih dibidang pendidikan. Semuanya telah diperbudak dengan politik yang praktis dan takkaruan yang selalu saja mengatas namakan organisasi. Fakta yang terjadi adalah pada saat zaman sekarang, sangat banyak orang yang pintar dan Cerdas bahkan memiliki ilmu yang melebihi orang-orang terdahulu baik dalam segala aspek sudut pandang keilmuan, namun kenapa tidak bermanfaat sama sekali, ilmu yang mereka proleh hanya dijadikan sebagai alat jual main politik untuk mengejar kekuasaan dan kemegahan harta dunia. Seperti halnya lomba karya tulis saat ini, apakah ini tidak bermain politik didalamnya. Mengispirasi bangsa tidak harus dengan jalan menulis yang di lombakan dengan memakai uang pendaftaran yang dibikin tertarik dengan hadiah yang ditawarkan didalamnya dan tidak pula harus bekerja sama dalam satu naungan organisasi, ini yang kerap sekali dilakukan supaya kita bisa unggul dari pada yang lain, poin sebenarnya yang harus dilakukan sekaligus disadari adalah Ibda’ binafsi {mulailah dengan diri sendiri}, Ajaran Agama manapun tidak pernah mengajarkan yang benar itu jadi salah dan yang salah menjadi benar, akan tetapi dalam dunia politik yang selalu mengatasnamakan organisasi telah mengajarkan sebaliknya. Pemuda seperti inikah yang akan membuat mimpi dari indonisia emas 2045 akan terwujud.

memahami-falsafah-soekarno

Sadarilah sejenak dengan berfikir yang disertai dengan imajenasi untuk melihat dan memperhatikan kembali terhadap orang-orang terdahulu, dimana kejadian-kejadian di masalalu yang merupakan sejarah yang tak terlupakan dari sebuah perjuangan untuk mepertahankan Indonesia, seperti peristiwa sejarah lahirnya sumpah pemuda pada tahun 1928, yang harus dijadikan pola berfikir dan sudut pandang kita untuk menatap masa depan yang bukan hanya mengandalkan keberanian saja, mengapa demikian,? perhatikan dan amatilah seseorang yang hidup dimasa dulu tentang prilaku dan sifatnya, bahkan yang paling penting adalah orang yang hidup dimasa dulu dimana sistem teknologi belum berkembang pesat, pola hidup mereka semua tidak pernah memiliki ketertarikan akan harta duniawi, tidak gila hormat dan jabatan, hal yang telah dilakukan oleh orang-orang dahulu ini sangatlah kecil bagi kita sekarang, karena mereka hanya membaca sejarah sebagai perjuangan semata, bahkan jarang ditemukan untuk kaum pemuda saat ini, mencontoh bahkan menerapkan budaya-budaya terdahulu, Entah karena kondisi mereka dulu mendarah danging pada budaya masing-masing yang sangat dipengang erat, sehingga mereka mempunyai solidaritas yang tinggi ataupula hidupnya dijamin oleh pemerintah seperti ekonomi dan kesehatannya, sehingga mereka tidak pernah merasa kekurangan dan rakus akan kehormatan dunia yang bisa dibeli dengan harta kekayaan seseorang seperti yang sudah terjadi pada masa kini khususnya para pemuda. Sepeti yang dikutip langsung oleh Agus Sunyoto dalam bukunya “Atlas Walisongo dan NU Deso Wahhabi Kota” dan Prof. Mansur Surya Negara dalam bukunya yang berjudul “Api Sejarah”
Sebagian besar dari kalangan kaum pemuda dan pemudi apalagi yang bergelar mahasiswa telah memahami maksud dan tujuan lahirnya Sumpah Pemuda yang di bacakan oleh Soegondo pada tanggal 28 Oktober 1928.

Pemuda-indonesia

lantas pada saat ini, kita sebagai kalangan pemuda, lebih-lebih sebagai pelajar selalu saja mengkait-kaitkan dengan perkataan Soekarno ”beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku sepuluh pemuda niscaya akan ku guncangkan dunia”. Namun pada hakikatnya kita tak pernah mencoba merealisasikan bahkan berimajinasi sekilas antara sumpah pemuda dengan perkataan Soekarno dalam konteks pengkajian pemuda dan orang tua. Pidato yang disampaikan Soekarno berbasis bahasa majasi atau sebuah falsafah hidup, contoh sederhananya kenapa Soekarno tidak membalik perkataanya tersebut? Mungkin saja kalau kita tarik kesimpulan secara mendasar akan berwacana bahwa pemuda lebih hebat dari pada orang tua, akan tetapi konteks kajian di dalamnya bukanlah hal itu melaikan bahasa falsafah yang terkandung di dalamnya, yaitu yang muda harus di sayangi dan yang tua harus di hormati, sehingga terciptalah tali silaturrahmi. Kalimat “seribu orang tua mampu mencabut semeru dari akarnya” dan “ pemuda mampu menggucangkan dunia” itulah falsafah, sedangkan semeru adalah gunung sebagai falsafah yang harus dikaji. Tanpa kita sadari, gunung adalah salah satu pilar bumi yang sangat berpengaruh besar atas kekuatanya, hal itu telah di tegaskan di dalam ayat suci al-qur’an surah al-anbiya ayat 31; yang artinya “dan telah kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka…” Dalam Surah an-naba ayat 6-7; ”bukankah telah kami jadikan bumi sebagai hamparan dan kami jadikan gunung gunung sebagai pasak?” Juga terdapat Dalam surah an-nahl ayat 15 “dan dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi ini tidak berguncang bersama kamu”. Mengacu pada penegasan ayat di atas, sederhananya bagaimana mungkin sepuluh pemuda bisa mengguncangkan dunia, kalau seribu orang tua belum mencabut semeru dari akarnya.

Teori pandang kita yang kedua mengacu pada Sumpah Pemuda. Dalam isi sumpah pemuda ada kalimat “mengaku bertumpah darah yang satu tanah Indonesia”, “mengaku berbangsa yang satu bangsa Indonesia”, “menjungjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Lantas kenapa fakta yang terjadi, pemuda dan pemudi saling menumpahkan darah demi kerakusan mereka yang gila akan pangkat, tahta dan jabatan, sehingga mereka saling menjatuhkan antar sesama di Bumi Pertiwi. Lalu kapan Indonesia akan maju jika pemudanya saja sudah rakus akan hal seperti itu, mereka tak pernah mau berfikir akan kemajuan sebuah bangsa. Fakta yang kedua, kenapa banyak para pemuda yang pengangguran? Mereka bekerja di bawah jajahan Chinese (secara tidak langsung). Dan mengapa banyak rakyat Indonesia yang jadi budak di luar negri. Dan fakta yang ketiga mengapa para pemuda sudah hampir menghilangkan bahasa persatuan yaitu Bahasa Indonesia, dengan semakin berkembangannya zaman apakah bahasa kita akan di tukar dengan Bahasa Asing? Apakah sumpah para pemuda hanya di jadikan sebagai alat Ceremonial momentum belaka? Atau justru para pemuda era modernisasi saat ini hanya bisa mengenang tanpa merayakan Sumpah Pemuda yang menjadi bagian sejarah kemerdekaan? Di manakah pergerakan sepuluh pemuda yang kekuatanya melebihi seribu orang tua? Benarkah para pemuda itu telah bersumpah? Hanya kepadamu aku bertanya…???

Sumpah-pemuda

Inilah kesalahan para pemuda masa kini tidak pernah menanyakan seperti apa lahirnya sumpah pemuda dulu, gerakan sosial seperti apa yang digerakkan masa perjuangan pemuda dulu, yang selalu saja kalah berperang dengan dirinya sendiri, pemuda terlalu panjang melihat berbagai persolaan kehidupan, meskipun penilayan terhadap pemuda lebih-lebih mahasiswa yang dilihat secara kasap mata mereka mampu bergerak dibidang politik, ekonomi, social, budaya, dan teknologi, akan tetapi secara mendasar mereka lebih cendrung menyerah sebelum bertarung dalam segala aspek kehidupan masa kini. Salah satu fakta yang menarik adalah berkembangnya teknologi yang dipadukan dengan politik praktis masa kini, yang kesemuanya tanpa sadar telah diperbudak barang yang tidak bernyawa namun mampu membunuh orang lain. Apalagi disatukan dengan dunia perpolitikan yang sangat tidak jelas alurnya, ingatlah satu hal bahwa dunia politik sistemnya adalah membunuh, kalau kita tidak membunuh maka kita akan terbunuh.

Politik dalam Bahasa arabnya adalah ”Siasah” yang mana asalnya adalah sasa, yasusu, siasatan, dan setiap siasat itu menyesatkan, dari sudut pandang inilah yang sangat jarang disadari oleh pemuda, dimana mereka cendrung berfikir kekuasaan adalah segala-galanya, dengan kekuasaan inilah pemuda berlomba-lomba dalam kesenangan dunia yang selalu disangkut pautkan dengan satu pondasi “fastabiqul khoirot” padahal realita yang terjadi tidak seperti demikian, justru mereka berlomba-lomba untuk saling menikam sesama saudaranya sendiri.

Pemuda adalah pemimpin dimasa datang, sekilas kata-kata tersebut tidak asing lagi, namun sudut pandang yang harus dicermati dari para pemuda untuk jadi pemimpin adalah pola berfikir yang kritis dan terlalu berlebihan dalam menyikapi masalah dengan fikirannya, sehingga suatu hal yang harampun bisa menjadi halal, inilah yang terjadi saat ini, karena pemuda sekarang tidak pernah berimajenasi dalam hidupnya, bahkan tidak pernah mengisi otak dan hatinya dengan ajaran ilmu yang lebih utama dalam bidang keagamaan yang merupakan keyakinan akan ketentuan hidup kita setelah kematian.

damai-indonesia

Satu-satunya hal yang harus dilakukan pemuda saat ini adalah saling mengingatkan satu sama lain, dan jangan pernah melihat siapa yang memberikan saran dan kritikan terhadap kita, dan satu hal lagi jangan pernah merasa malu untuk belajar dari seseorang yang usianya lebih muda dari pada kita, karena hal ini sudah dijelaskan dalam QS. Ash’r, ayat 1-3 yang artinya : “Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling memberikan nasehat supaya mentaati kebenaran dan saling menasehati supaya menetapi kesabaran”. hal inilah yang sering kali diabaikan oleh diri kita, padahal kalau kita mencoba lagi memahami dari arti ayat tersebut sangatlah besar nilai sosial di dalalmnya. Kalau kita mengkaji kembali ayat diatas, dengan amat sederhana kita akan menemukan satu titik yang sangat wajib untuk kita lakukan, Namun kebanyakan mereka mengabaikan hal yang wajib kita lakukan seperti perintah tuhan kepada kita sesuai dengan ayat diatas, bahkan kadang kala kita mengabaikannya, Saling menasehati dalam kebenaran serta menasehati dalam kesabaran kita anggap hal itu bukan perintah yang wajib kita lakukan terhadap sesama manusia lebih hususnya muslim akan lebih paham lagi tentang kandungan makna didalam ayat tersebut, apalagi kita sebagai rakyat indonisia, satu bangsa dan satu bahasa yang tidak hanya berangkat dari satu suku, adat istiadat hingga masalah keyakinan pribadi akan hal keagamaan, nilai-nilai sosial sangat dibutuhkan dalam komunikasi kita setiap hari, jangan pernah menjadikan sesuatu yang berbeda dari diri kita adalah masalah bahkan menganggapnya sebagai musuh, lebih-lebih beda keyakinan dalam keagamaan, karena hal semacam ini banyak terjadi dikalangan manusia yang tidak bisa menghilangkan rasa keakuannya dalam dirinya, lebih globalnya di indonisia sendiri, bahkan satu agama dan keyakinanpun bentrok dan banyak masalah, lebih-lebih dalam tataran pemerintah yang mana hanya untuk memperebutkan satu kursi saja sudah membunuh saudara-saudarnya yang sama-sama sebangsa ini, ingatlah satu hal bahwa adanya keyakinan yang disebut agama, bukan sebagai ujung tombak permusuhan manusia dan bukan pula permainan politik yang harus di permasalahkan, Satu hal yang perlu dicatat bahwa perbedaan itu pada dasarnya sangat indah, jika kita menyadarinya tengtang keindahan itu sendiri, Dari keindahan inilah yang menjadikan setiap perbedaan sebagai rahmatallilalamin.

You might also like

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *