perang

Deradikalisasi Sebagai Jihad Fisabilillah

Memahami agama Islam bukanlah hal yang sangat mudah apalagi kita berada dinegara yang berlandaskan Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal ika, Negara ini Berdiri Bukan untuk saling menghujat,bermusuhan satu sama lain apalagi saling menyalahkan sesama agama islam sendiri, persoalan tengtang beda pemahaman tentang berbagai aliran bukanlah suatu masalah yang besar, karena pada dasarnya kita sama-sama saling memahami tentang Agama islam sebagai rahmatal lilalamin.

Sangat penting bagi kita untuk memahami dulu tentang makna islam sebagai rahmatal lilalamin, makna Rahmat yang diberikan Allah untuk agama islam bukan hanya untuk umat muslim saja, kalimat dibelakang sebagai taukid (penguat), merupakan satu-satunya penjelasan yang sangat indah, karena tidak memakai lafadz Rahmatal lilmuslimin, justru Rahmatal lilalamin, dari sinilah Agama islam justru harus memberikan perdamaian bukan pertiakaian dimana-mana, apalagi sesama umat muslim sendiri.

jihad

Pertanyaan besar yang terjadi pada masa sekarang Ialah Bagaimana dengan perselisihan dan perseteruan di antara umat manusia yang beragama ? apalagi satu agama berbeda keyakinan terkait isi dari agama tersebut ? apakah dengan adanya bukti perseteruan umat beragama ini menjadi bukti bahwa sebenarnya agama tidak berpengaruh sama sekali bahkan tak memiliki manfaat pada mereka? Untuk menjawab pertanyaan yang kritis ini, kita juga harus mampu menganalisis pertanyaan tersebut dengan kritis juga tentunya. Kita harus menarik kebelakang dulu apa latar belakang dari pertanyaan ini? Apakah keheranan pada sikap keberagamaan sebagian orang yang bersikap radikal dan fanatik pada golongan atau justru mereka berupaya untuk mereduksi urgensitas agama bagi seluruh umat manusia? Hal ini yang kita harus tuntaskan dulu untuk menganalisanya, sebelum menjawab semua pertanyaan yang kritis tersebut.

Pada dasarnya jika pertanyaan diatas Berangkat dari unsur keheranan terhadap sikap keberagamaan sebagian orang yang bersikap radikal, maka disini sebenarnya bukan agamanya yang salah, tetapi mereka yang justru harus diluruskan terkait pemahaman dan cara keberagamaannya.

Bicara terkait agama pada dasarnya semua agama yang ada mengajarkan kebaikan, perdamaian serta sikap saling mengasihi terhadap semua manusia dimuka bumi ini, meski terkadang orang menyatakan pada sikap membela dari agamanya berdasarkan sejarah untuk berperang, maka tidak bisa dijadikan sebagai argumen untuk menuduh bahwa agama an sich adalah penyebab perselisihan dan peperangan.

Dalam agama Islam konsep peperangan ini disebut dengan jihad, akan tetapi makna dari peperangan dalam islam tidak semata-mata diartikan untuk membantai seluruh umat manusia yang berbeda keyakinan dengan kita, baik keyakinan beda agama ataupun terkait keyakinan isi dari agama itu sendiri, peperangan yang dikenal dengan jihad fisabilillah dalam islam ditujukan untuk melawan serangan dari musuh yang menyerang lebih dulu atau mengusir musuh dari negri yang ditempati untuk membela kedaulatan agama dan negara ketika suatu daerah atau negara lain melakukan pelecehan seperti membunuh duta besar seperti khalifah yang menyampaikan dakwah sekaligus melanggar perjanjian dan aturan yang telah disepakati sebelumnya.

Sejarah jihad dalam islam yang diterapkan pada masa dulu juga di batasi dengan berbagai larangan, jihad dalam islam tidak semata-mata bertindak anarkis untuk menegakkan hukum Allah, akan tetapi juga memiliki nilai keperimanusiaan dan perikeadilan yang membatasi mereka untuk berjihad , diantaranya Ialah tidak boleh membunuh anak-anak, wanita, dan orang tua, sekaligus tidak diperbolehkan merusak lingkungan.

Namun Pada sisi lain jihad tidak harus dijadikan sebagai penyelesaian utama dari suatu persoalan dan masalah yang terjadi, Apabila suatu daerah atau negara lain bersikap koperatif atas dakwah islam serta menjaga perdamaian yang baik, Maka jihad tidak boleh diterapkan semata-mata pada mereka dengan mengatasnamakan Agama, Umat Islam dapat berdampingan dengan non muslim di suatu daerah secara bersama-sama bahkan juga wajib melindunginya, serta harus menjaga komitmen perdamaian diantara mereka, seperti inilah yang di ajarkan dalam Kitab suci Al-Qur’an, “ Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negrimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS al-Mumtahanah [60]: 8), juga terdapat dalam hadis yang menjadi pedoman bagi seluruh ummat islam.

Jika terjadi peperangan tanpa adanya alasan yang jelas seperti yang terurai diatas, hanya saja sebatas mengatasnamakan membela agama berdasarkan jihad fisabilillah maka hal ini tidak dibenarkan dalam agama islam, kemungkinan besar adanya sebab propaganda yang mengatasnamakan agama dalam berjihad tidak lain antara masalah unsur ekonomi dan politik, hal ini juga dipaparkan oleh Prof DR H mohammad Baharun, SH, MA dalam bukunya Dialog perdamaian: diakletika muslim moderat (2010) mengatakan, “ Citra bahwa agama identik dengan konflik dan perang tidak sepenuhnya dapat dibenarkan. Konflik sebetulnya lebih disebabkan oleh faktor ekonomi dan politik. Hanya saja agama memiliki sistem symbol yang sangat mudah digunakan untuk memobilisasi massa, sehingga konflik ekonomi dan politik itu terlihat seperti benturan suci yang digerakan oleh agama”.

Melihat yang terjadi masa kini seperti cara-cara kekerasan dan teror yang mengatasnamakan jihad fisabilillah untuk menegakkan hukum-hukum Allah disuatu negri, merupakan salah satu cara yang sering digunakan oleh sekelompok golongan Radikal untuk mencapai tujuannya. Pemahaman radikalisme agama sebagai fenomena tidak lain merupakan kegelisahan berlebihan yang dialami oleh seseorang, hal ini terjadi tidak lain karena dua faktor, pertama adakalanya karena pikiran seseorang yang hampa, kedua adakalanya karena pandangan pesimis sebagai akibat ketidaktahuan pada hukum-hukum Agama.

Paham radikal merupakan hal yang sengat membahayakan bagi ummat muslim itu sendiri, sejarah Radikalisme bukan hanya terjadi pada zaman sekarang, hal ini sudah terjadi pada masa tampuk kepemimpinan islam khalifah Sayyidina ALI R.A. Sejarah menyatakan Radikalisme muncul sejak terjadinya perang Shiffin pada tahun 35 H, yang melibatkan pertempuran pemerintah yang sah dari pihak Sahabat Ali bin Abi Thalib R.A berhadapan dengan Mu’awiyah bin Abi sufyan R.A selaku Gubernur Syam (Suriah). Dilanjutkan lagi dengan adanya perang Jamal pada tahun 36 H, yang dipimpin langsung oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib R.A melawan Aisyah R.A istri Rosulullah SAW. Terdapat sejarah yang lain bahwa terjadinya pemahaman Radikalisme dengan mengatasnamakan Jihad fisabilillah demi menegakkan hukum Allah terjadi saat peristiwa terbunuhnya Sayyidina Ali R.A yang dibunuh oleh Abdullah bin Muljam dengan mengatasnamakan unsur agama dengan alasan supaya mendapatkan kejayaan dunia akhirat sekaligus awal mulanya pengucapan kalimat la hukma illa lillah.
Setelah terjadinya peristiwa tersebut maka muncul beberapa firqoh-firqoh (kelompok/golongan) yang mulai paham Radikalisme hingga berkembang sampai masa sekarang :

Pertama, golongan Syiah. Mereka komunitas islam yang mengklaim membela mati-matian Sahabat Ali bin Abi Thalib R.A.

Kedua, golongan Jabariyah. Yang berkeyakinan suatu kejadian maupun segala sesuatu sepenuhnya tersentral kepada Allah SWT.

Ketiga, golongan Khawarij. Mereka tidak sepaham dengan barisan kubu sahabat Ali bin Abi Thalib R.A dan pengikutnya. Sebagai respon balik dari kelompok ini, muncul suatu gerakan kelompok ummat islam yang tidak sepaham dengan ummat islam lain yang terkenal dengan sebutan Murjiah.
Keempat, golongan netral. Mereka adalah kelompok ummat Islam moderat di tengah masyarakat muslim. Perlu diketahui kelompok mereka ini diantaranya adalah Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Mas’ud R.A, yang secara lansung atau tidak langsung mengembangkan nilai-nilai agama islam.

Sejarah singkat berkembang pesatnya radikalisme ini dimulai oleh radikalisme khawarij sebagai benih gerakan radikal dalam sejarah umat islam, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Abu Zahra sebagai berikut :

1. Mendesak sayyidina Ali R.A untuk damai dengan mu’awiyah R.A dipenghujung perang shiffin.

2. Menentukan juru damai, yaitu Abu Musa al-Asy’ari R.A dari pada pilihan Sayyidina Ali R.A yaitu Abdullah bin Abbas R.A.

3. Pasca kekalahan menganggap Sayyidina Ali R.A melakukan dosa besar dan menyuruh tobat darinya, bahkan menganggapnya telah kafir.

4. Mengoar-ngoarkan jargon : la hukma illa lillah (tidak ada hukum kecuali milik Allah).

5. Menjadi aliran yang paling ekstrim dalam memaksakan pendapatnya kepada pihak lain.

Pemahaman Radikalisme khawarij ini berkembang menjadi ekstrim sekaligus menebar teror dan aksi anarkis terhadap umat islam semenjak pembunuhan yang dilakukan terhadap Abdullah bin Khabbab R.A karena tidak menganggap Sayyidina Ali R.A telah musrik dan meyakininya sebagai perintah al-Qur’an, pengafiran terhadap orang yang tidak sepaham dengannya.

Pertanyaan yang banyak terjadi Bagaimana dengan perselisihan antar umat dalam satu agama pada saat sekarang, apalagi sesama agama banyak golongan yang saling menghujat dan menyalahkan satu sama lain? Sebenarnya perselisihan antar umat dalam satu agama yang terjadi sekarang ini bukanlah perintah dari agama tersebut, karena setiap agama mengajarkan persatuan diantara pemeluknya. Dalam hal ini, sangat penting bagi kita untuk kembali menganalisa bahwa perselisihan dan perbedaan pendapat ini sangat berbeda. Perbedaan pendapat sesama umat muslim ini merupakan Rahmat bagi seluruh umat islam. Perbedaan pendapat juga tidak terjadi saat zaman sekarang saja, hal ini sudah terjadi pada masa sahabat yang masih hidup semasa dengan Rosulullah, hal ini membuktikan bahwa perbedaan pendapat bukanlah masalah yang harus dibesar-besarkan. Itulah jawaban apabila pertanyaan diatas dilatar belakangi oleh keheranan pada sikap keberagamaan sebagian orang yang bersikap radikal dan fanatik golongan.

Disisi lain Jika mempertanyakan perselisihan antar umat dalam satu agama itu karena ingin mereduksi urgensitas agama, maka keinginan itu takkan terwujud, mengapa demikian ? karena agama merupakan jalan atau jembatan dari perjalanan umat manusia dalam kebenaran, banyangkan saja jika didunia ini tidak ada agama bagaimana moral dan sikap manusia. Agama adalah kebutuhan manusia. Semakin keras usaha manusia untuk mereduksi atau bahkan melarang agama, maka agama akan semakin kuat tertanam dalam hati para pemeluknya.

Deradikalisisi sebagai bentuk kepedulian kita terhadap agama dan keutuhan NKRI sangat penting sekali untuk diperhatikan dan terus dilanjutkan, Sebab Rosulullah SAW bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah R.A yang artinya “Sesunguhnya Allah Maha Lembut, menyukai kelembutan, dia memberikan pada kelembutan sesuatu yang tidak diberikan pada kekerasan dan sesuatu yang tidak diberikan kepada selainnya.”
Maka hemat saya janganlah sekali-kali kita berbicara terkait suatu golongan dalam agama, dimana kita selalu mengkaitkan dengan Firman Allah yang artinya : “pada hari ini telah kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah kusempurnakan kepadamu nikmatku, dan telah kuridhoi islam sebagai agama bagimu. (QS. Al-Maidah [5]:3), dalam ayat ini terdapat agama islam telah sempurna, pemahaman kebanyakan orang ialah karena agama telah sempurna maka jangan ditambah-tambahi dan jangan dikurang-kurangi. Namun pernyataan dari orang seperti ini mereka tidak pernah menyadari bahwa yang menambahi ini siapa? lalu yang mengurangi siapa? Islam memang telah sempurna akan tetapi dari kesempurnaan agama islam jangan dikecilkan oleh umat islam itu sendiri dari perbedaan pendapat keyakinan suatu golongan, Biasanya perbedaan pendapat ini terjadi ketika kita berbicara tengtang tata cara ibadah didalam agama berlandaskan ijmak ulama’, selain dari itu kita sama-sama percaya bahwa sholat dhuhur berjumlah empat roka’at, maka ini sangat jelas tidak boleh ditambah dan tidak boleh dikurangi karena ini sudah ketetapan.

Radikalisme modern terjadi berdasarkan dari pemahaman yang tekstualis, ekstrim, tidak menerima perbedaan, serampangan dalam menyesatkan, mebid’ahkan, dan mengkafirkan orang lain yang berbeda penafsiran dengannya, kemudian pada gilirannya berpotensi besar menebar kebencian dan melancarkan aksi-aksi anarkis-teroris yang mengancam keutuhan bangsa.

Selain berbagai perbedaan pendapat yang menjadikan salah satu penyebab radikalisme, sisi lainnya ialah terlalu berlebihan dalam menyikapi persoalan perbedaan dalam agama yang artinya terlalu berlebih-lebihan dalam urusan agama. Hal ini telah ditegaskan oleh Rosulullah dalam hadisnya yang diriwayatkan oleh Ibn abbas R.A bahwa Rosululah SAW bersabda : “Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam Agama. Sungguh umat sebelum kalian binasa karena berlebih-lebihan dalam agama”.

Dari hal inilah untuk menjaga keutuhan seluruh umat beragama dalam lingkup tanah air yang satu Nusa satu bangsa yaitu bangsa Indonesia, sangat perlu kita menurunkan sikap dan sifat Radikal yang menyalahi aturan, baik dalam aturan Agama islam sendiri dan aturan negara ini, maka bagi seluruh umat muslim wajib hukumnya saling mengingatkan satu sama lain jika terdapat kesalahan dalam diri seseorang, serta hargailah pendapat orang lain walaupun berbeda dari kita, karena manusia pada dasarnya sangatlah rugi dalam menjalani kehidupan ini kecuali orang yang saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran, persoalan orang lain menirima atau tidak atas saran kita selebihnya hak mereka, hanya saja tugas kita saling melengkapi satu sama lain untuk mempertahankan dan menjaga kesatuan NKRI, Pesan saya adalah Adakalanya kita membuka mata lebar-lebar, membuka telinga lebar-lebar dan menutup mulut rapat-rapat.

You might also like

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *