Artikel

Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar Pangarangan Sumenep Jawa Timur menghimpun para alumninya yang tergabung dalam Forum Komunikasi Mahasiswa Mathali’ul, Anwar Indonesia (F-KAMMAI) dan menyelenggarakan Kongresnya II. Acara bertempat di Gedung Islamic Center, Jalan Raya Lenteng, Batuan, Ahad (4/3).

Kongres yang dikemas dengan Seminar Nasional dengan tema Masa Depan Pesantren di Era Digital dalam Perspektif Sosial Budaya Politik dan Ekonomi ini mendapat dukungan penuh dari Pengasuh, KH Abu Suyuf Ibnu Abdullah.

“Saya sebagai pengasuh sangat mendukung acara ini dan semoga ada tindak lanjut dari Kongres II ini, karena saya juga  berkeinginan agar pondok suatu saat memiliki perguruan tinggi sebagai jembatan untuk memperkaya keilmuan keislaman, tetapi tetap berbasis ciri khas keilmuan pesantren,” katanya.

Read Full Article

Alumni Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar Pangarangan Sumenep Madura Jawa Timur, yang tergabung dalam Forum Komunikasi Mahasiswa Mathali’ul Anwar Indonesia (F-KAMMAI) mengadakan Kongres -II. Bertempat di Gedung Islamic Center, Jalan Raya Lenteng, Batuan, Sumenep, Madura, Jawa Timur (Jatim). Minggu (4/3/2018).

Kongres yang dikemas dengan Seminar Nasional yang bertemakan ‘Masa Depan Pesantren di Era Digital dalam Perspektif Sosial BudayaPolitik & Ekonomi’ ini mendapatkan apresiasi dari pengasuh Ponpes Mathali’ul Anwar KH. Abu Suyuf Ibnu Abdullah.

“Sebagai pengasuh saya mendukung acara ini dan semoga ada tindak lanjut dari Kongres II ini, karena saya ingin agar pondok juga memiliki Perguruan Tinggi,” katanya, Minggu (4/3/2018).

Read Full Article

SUMENEP – Kementerian Ketenagakerjaan menggandeng kalangan Pondok Pesantren dalam menurunkan angka pengangguran. Salah satunya dengan Forum Komunikasi Mahasiswa Matholi’ul Anwar Indonesia (F-KAMMAI), Pondok Pesantren Matholi’ul Anwar, Pangarangan, Sumenep, Jawa Timur. Bersama dengan pesantren di pulau Madura tersebut, digelar bursa kerja (job fair) di Gedung Islamic Center Bindara Saod, Sumenep pada Seni-Selasa, 5-6 Maret 2018.

“Ini bagian ihtiyar pesantren ikut membantu mengurangi pengangguran. Kegiatan ini dapat mempertemukan tenaga kerja produktif dengan perusahaan, terutama alumni pesantren di Madura,” kata Ketua Dewan Kehormatan F-KAMMAI, KH. Moh. Ali Wasik, Senin, 5 Maret 2018.

Read Full Article
  • PUISI-SANTRI

*SANTRE PANGARANGAN

Tangisku
Aku yang berduka
Karna gemuruh langit tak lagi bersuara
Jalan-jalan pun masih lengket dengan stempel tinta hitam
Namun bendera itu tak lagi berwarna
Tiba-tiba darahku tak merah lagi
Mataku putih di bawah hitam
Menyisakan harapan yang terbakar
Lalu Aku beringsut dari duka
Yang membuatku kecewa
Lantaran garuda tak lagi bersuara
Tangiskau
Ia yang bersedih
Karena air mata
Tak kan mengajarkanmu lupa
Walau angin telah bernafas dengan waktu
Kini tiba saatnya kita lantunkan sejarah itu Indonesia raya
Ya, Indonesia raya
Tanah darah kita
Bukan tanah milik kita
Merdeka bagimu, kecewa bagiku
Lantaran aku tak mampu memurnikan sejarah kita
Lantaran aku tak mampu memurnikan sejarah tanah air kita
Lantaran aku tak mampu memurnikan sejarah tanah tumpah darah kita
Lantaran aku tak mampu memurnikan sejarah negara
Lantaran aku tak mampu memurnikan sejarah bangsa
Lalu aku berduka, Aku bersedih
Namun, aku melarang mu menangis
Karena tangisku itulah dukamu
Yang menyisakan kesedihan, kepedihan dalam rindumu
Aku melihat
Aku menatap
Aku menyaksikan
Itukah aku
Itukah kau
Dan itukah kita
Menyebutnya BHINNEKA TUNGGAL IKA
Merdeka
Ya merdeka
Aku merdeka
Kau merdeka
Kita merdeka
Namun, kita tetaplah kau dan aku
Bukan kalian.

Read Full Article

upacara-pp-mathaliulanwar

Mathali’ul Anwar – Santri pangarangan memperingati hari kemerdekaan indonesia yang ke 72, dalam upacara tgl 17 agustus 2017 kemaren berbeda dengan yang kota santri yang lain, kali ini para santri yang juga sekolah formal dibawah naungan sekolah SMA dan SMP Yayasan Abdullah (YAS’A) memperingati dengan pakaian batik yang juga sebagai seragam mereka untuk sekolah formal, biasanya tahun-tahun sebelumnya,semuanya memakai pakaian merah putih atau seragam sekolah putih abu-abu.

Selain para santri, para asatidz dan jajaran guru sekolah formal yang ikut mendampingi kepala sekolah juga ikut menyanyikan lagu indonesia raya sebagai momentum memperingati perjuangan dimasa dulu, upacara ini sangat unik sekali karena para santri yang secara keseluruhan baik yang sekolah formal ataupun non formal semuanya sama-sama ikut melakukan prosesi pingibaran bendera merah putih, salah satu santri salaf menyatakan bahwa adanya pondok pesantren diindonesia adalah awal dari kemerdakan indonesia yang diproklamasikan oleh soekarno, sebab pondok pesantren memiliki peran besar diindonesia,

Fakta sejarah menyatakan bahwa pahlawan nasional yang berkontribusi besar atas kemerdekaan indonesia ini tidak lepas dari para ulama’ dan kiai yang ada di seluruh nusantara ini termasuk K.H Hasyim As’ari yang merupakan salah satu santri dari Syaikhona KHOLIL Bangkalan, ujar shofwan selaku santri sekaligus asatidz pondok pesantren mathali’ul anwar.

Disisi lain para santri juga menjadikan hari ulang tahun kemerdekaan republik indonesia ini sebagai ajang semangat baru untuk memulai hal yang baik kedepannya yaitu fastabiqol khoirot, yang artinya berloma-lomba dalam kebaikan. Bagi para santri Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) pada tanggal 17 Agustus 1945 memiliki arti, makna dan hikmah bila ditarik dalam kajian studi Islam. Menurut Islam, kemerdekaan yang sesungguhnya adalah bebas untuk bertindak karena manusia adalah makhluk yang diberikan otonomi dan kepercayaan sebagai khalifah fil ardh, pemimpin di bumi. Namun, kemerdekaan itu dibatasi dengan hukum-hukum dalam syariat Islam.

Semua syariat Islam bisa ditemukan dalam Al Quran sebagai sumber utama hukum Islam. Ada pula hadits yang menjadi sumber hukum Islam kedua. Kemerdekaan itu jelas ada batasnya, karena sudah ada aturan yang menjadi petunjuk supaya manusia bisa hidup dengan baik di dunia, ujar junaidi selaku pengurus pondok pesantren.

Read Full Article

Indonesia merderka bagimu, kecewa bagiku, Terlihat sejenak tengtang satu bait puisi yang sangat banyak menyimpan beberapa pertanyaan tengtang sebenarnya Indonesia yang sangat dikenal dengan sebutan NKRI ini. Kemerdekaan Indonesia ini yang telah lama menjadi Negara dan Bangsa serta berdaulat dengan dirinya sendiri sangat patut dicurigai keberdaulatannya. Biasanya pertanyaan yang sering kali akrab ditanyakan dikalangan pemuda apakah Negara ini sudah benar-benar murni merdeka yang berdaulat secara mandiri sekaligus menjalankan terhadap asas-asas idiologi pancasila yang bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika.

perjuangan-santri

Lantas pergerakan apa yang dilakukan oleh pemuda dan orang tua yang masih memengang tampuk kekuasaan saat ini, Berbicara Negara kesatuan Republik Indonesia ini, sama halnya berbicara pemuda didalamnya, Khususnya mahasiswa yang dikenal dengan sosok pemuda yang gagah dan berani, apalagi pemuda sekarang yang akan menentukan atas terwujudnya Indonesia emas pada tahun 2045. Namun pertanyaanya adalah pemuda seperti apa yang bisa mewujudkan impian itu, pada realitanya pemuda saat ini sudah sangat apatis dan pragmatis, Lebih-lebih dibidang pendidikan. Semuanya telah diperbudak dengan politik yang praktis dan takkaruan yang selalu saja mengatas namakan organisasi. Fakta yang terjadi adalah pada saat zaman sekarang, sangat banyak orang yang pintar dan Cerdas bahkan memiliki ilmu yang melebihi orang-orang terdahulu baik dalam segala aspek sudut pandang keilmuan, namun kenapa tidak bermanfaat sama sekali, ilmu yang mereka proleh hanya dijadikan sebagai alat jual main politik untuk mengejar kekuasaan dan kemegahan harta dunia. Seperti halnya lomba karya tulis saat ini, apakah ini tidak bermain politik didalamnya. Mengispirasi bangsa tidak harus dengan jalan menulis yang di lombakan dengan memakai uang pendaftaran yang dibikin tertarik dengan hadiah yang ditawarkan didalamnya dan tidak pula harus bekerja sama dalam satu naungan organisasi, ini yang kerap sekali dilakukan supaya kita bisa unggul dari pada yang lain, poin sebenarnya yang harus dilakukan sekaligus disadari adalah Ibda’ binafsi {mulailah dengan diri sendiri}, Ajaran Agama manapun tidak pernah mengajarkan yang benar itu jadi salah dan yang salah menjadi benar, akan tetapi dalam dunia politik yang selalu mengatasnamakan organisasi telah mengajarkan sebaliknya. Pemuda seperti inikah yang akan membuat mimpi dari indonisia emas 2045 akan terwujud.

memahami-falsafah-soekarno

Sadarilah sejenak dengan berfikir yang disertai dengan imajenasi untuk melihat dan memperhatikan kembali terhadap orang-orang terdahulu, dimana kejadian-kejadian di masalalu yang merupakan sejarah yang tak terlupakan dari sebuah perjuangan untuk mepertahankan Indonesia, seperti peristiwa sejarah lahirnya sumpah pemuda pada tahun 1928, yang harus dijadikan pola berfikir dan sudut pandang kita untuk menatap masa depan yang bukan hanya mengandalkan keberanian saja, mengapa demikian,? perhatikan dan amatilah seseorang yang hidup dimasa dulu tentang prilaku dan sifatnya, bahkan yang paling penting adalah orang yang hidup dimasa dulu dimana sistem teknologi belum berkembang pesat, pola hidup mereka semua tidak pernah memiliki ketertarikan akan harta duniawi, tidak gila hormat dan jabatan, hal yang telah dilakukan oleh orang-orang dahulu ini sangatlah kecil bagi kita sekarang, karena mereka hanya membaca sejarah sebagai perjuangan semata, bahkan jarang ditemukan untuk kaum pemuda saat ini, mencontoh bahkan menerapkan budaya-budaya terdahulu, Entah karena kondisi mereka dulu mendarah danging pada budaya masing-masing yang sangat dipengang erat, sehingga mereka mempunyai solidaritas yang tinggi ataupula hidupnya dijamin oleh pemerintah seperti ekonomi dan kesehatannya, sehingga mereka tidak pernah merasa kekurangan dan rakus akan kehormatan dunia yang bisa dibeli dengan harta kekayaan seseorang seperti yang sudah terjadi pada masa kini khususnya para pemuda. Sepeti yang dikutip langsung oleh Agus Sunyoto dalam bukunya “Atlas Walisongo dan NU Deso Wahhabi Kota” dan Prof. Mansur Surya Negara dalam bukunya yang berjudul “Api Sejarah”
Sebagian besar dari kalangan kaum pemuda dan pemudi apalagi yang bergelar mahasiswa telah memahami maksud dan tujuan lahirnya Sumpah Pemuda yang di bacakan oleh Soegondo pada tanggal 28 Oktober 1928.

Pemuda-indonesia

lantas pada saat ini, kita sebagai kalangan pemuda, lebih-lebih sebagai pelajar selalu saja mengkait-kaitkan dengan perkataan Soekarno ”beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku sepuluh pemuda niscaya akan ku guncangkan dunia”. Namun pada hakikatnya kita tak pernah mencoba merealisasikan bahkan berimajinasi sekilas antara sumpah pemuda dengan perkataan Soekarno dalam konteks pengkajian pemuda dan orang tua. Pidato yang disampaikan Soekarno berbasis bahasa majasi atau sebuah falsafah hidup, contoh sederhananya kenapa Soekarno tidak membalik perkataanya tersebut? Mungkin saja kalau kita tarik kesimpulan secara mendasar akan berwacana bahwa pemuda lebih hebat dari pada orang tua, akan tetapi konteks kajian di dalamnya bukanlah hal itu melaikan bahasa falsafah yang terkandung di dalamnya, yaitu yang muda harus di sayangi dan yang tua harus di hormati, sehingga terciptalah tali silaturrahmi. Kalimat “seribu orang tua mampu mencabut semeru dari akarnya” dan “ pemuda mampu menggucangkan dunia” itulah falsafah, sedangkan semeru adalah gunung sebagai falsafah yang harus dikaji. Tanpa kita sadari, gunung adalah salah satu pilar bumi yang sangat berpengaruh besar atas kekuatanya, hal itu telah di tegaskan di dalam ayat suci al-qur’an surah al-anbiya ayat 31; yang artinya “dan telah kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka…” Dalam Surah an-naba ayat 6-7; ”bukankah telah kami jadikan bumi sebagai hamparan dan kami jadikan gunung gunung sebagai pasak?” Juga terdapat Dalam surah an-nahl ayat 15 “dan dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi ini tidak berguncang bersama kamu”. Mengacu pada penegasan ayat di atas, sederhananya bagaimana mungkin sepuluh pemuda bisa mengguncangkan dunia, kalau seribu orang tua belum mencabut semeru dari akarnya.

Teori pandang kita yang kedua mengacu pada Sumpah Pemuda. Dalam isi sumpah pemuda ada kalimat “mengaku bertumpah darah yang satu tanah Indonesia”, “mengaku berbangsa yang satu bangsa Indonesia”, “menjungjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Lantas kenapa fakta yang terjadi, pemuda dan pemudi saling menumpahkan darah demi kerakusan mereka yang gila akan pangkat, tahta dan jabatan, sehingga mereka saling menjatuhkan antar sesama di Bumi Pertiwi. Lalu kapan Indonesia akan maju jika pemudanya saja sudah rakus akan hal seperti itu, mereka tak pernah mau berfikir akan kemajuan sebuah bangsa. Fakta yang kedua, kenapa banyak para pemuda yang pengangguran? Mereka bekerja di bawah jajahan Chinese (secara tidak langsung). Dan mengapa banyak rakyat Indonesia yang jadi budak di luar negri. Dan fakta yang ketiga mengapa para pemuda sudah hampir menghilangkan bahasa persatuan yaitu Bahasa Indonesia, dengan semakin berkembangannya zaman apakah bahasa kita akan di tukar dengan Bahasa Asing? Apakah sumpah para pemuda hanya di jadikan sebagai alat Ceremonial momentum belaka? Atau justru para pemuda era modernisasi saat ini hanya bisa mengenang tanpa merayakan Sumpah Pemuda yang menjadi bagian sejarah kemerdekaan? Di manakah pergerakan sepuluh pemuda yang kekuatanya melebihi seribu orang tua? Benarkah para pemuda itu telah bersumpah? Hanya kepadamu aku bertanya…???

Sumpah-pemuda

Inilah kesalahan para pemuda masa kini tidak pernah menanyakan seperti apa lahirnya sumpah pemuda dulu, gerakan sosial seperti apa yang digerakkan masa perjuangan pemuda dulu, yang selalu saja kalah berperang dengan dirinya sendiri, pemuda terlalu panjang melihat berbagai persolaan kehidupan, meskipun penilayan terhadap pemuda lebih-lebih mahasiswa yang dilihat secara kasap mata mereka mampu bergerak dibidang politik, ekonomi, social, budaya, dan teknologi, akan tetapi secara mendasar mereka lebih cendrung menyerah sebelum bertarung dalam segala aspek kehidupan masa kini. Salah satu fakta yang menarik adalah berkembangnya teknologi yang dipadukan dengan politik praktis masa kini, yang kesemuanya tanpa sadar telah diperbudak barang yang tidak bernyawa namun mampu membunuh orang lain. Apalagi disatukan dengan dunia perpolitikan yang sangat tidak jelas alurnya, ingatlah satu hal bahwa dunia politik sistemnya adalah membunuh, kalau kita tidak membunuh maka kita akan terbunuh.

Politik dalam Bahasa arabnya adalah ”Siasah” yang mana asalnya adalah sasa, yasusu, siasatan, dan setiap siasat itu menyesatkan, dari sudut pandang inilah yang sangat jarang disadari oleh pemuda, dimana mereka cendrung berfikir kekuasaan adalah segala-galanya, dengan kekuasaan inilah pemuda berlomba-lomba dalam kesenangan dunia yang selalu disangkut pautkan dengan satu pondasi “fastabiqul khoirot” padahal realita yang terjadi tidak seperti demikian, justru mereka berlomba-lomba untuk saling menikam sesama saudaranya sendiri.

Pemuda adalah pemimpin dimasa datang, sekilas kata-kata tersebut tidak asing lagi, namun sudut pandang yang harus dicermati dari para pemuda untuk jadi pemimpin adalah pola berfikir yang kritis dan terlalu berlebihan dalam menyikapi masalah dengan fikirannya, sehingga suatu hal yang harampun bisa menjadi halal, inilah yang terjadi saat ini, karena pemuda sekarang tidak pernah berimajenasi dalam hidupnya, bahkan tidak pernah mengisi otak dan hatinya dengan ajaran ilmu yang lebih utama dalam bidang keagamaan yang merupakan keyakinan akan ketentuan hidup kita setelah kematian.

damai-indonesia

Satu-satunya hal yang harus dilakukan pemuda saat ini adalah saling mengingatkan satu sama lain, dan jangan pernah melihat siapa yang memberikan saran dan kritikan terhadap kita, dan satu hal lagi jangan pernah merasa malu untuk belajar dari seseorang yang usianya lebih muda dari pada kita, karena hal ini sudah dijelaskan dalam QS. Ash’r, ayat 1-3 yang artinya : “Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling memberikan nasehat supaya mentaati kebenaran dan saling menasehati supaya menetapi kesabaran”. hal inilah yang sering kali diabaikan oleh diri kita, padahal kalau kita mencoba lagi memahami dari arti ayat tersebut sangatlah besar nilai sosial di dalalmnya. Kalau kita mengkaji kembali ayat diatas, dengan amat sederhana kita akan menemukan satu titik yang sangat wajib untuk kita lakukan, Namun kebanyakan mereka mengabaikan hal yang wajib kita lakukan seperti perintah tuhan kepada kita sesuai dengan ayat diatas, bahkan kadang kala kita mengabaikannya, Saling menasehati dalam kebenaran serta menasehati dalam kesabaran kita anggap hal itu bukan perintah yang wajib kita lakukan terhadap sesama manusia lebih hususnya muslim akan lebih paham lagi tentang kandungan makna didalam ayat tersebut, apalagi kita sebagai rakyat indonisia, satu bangsa dan satu bahasa yang tidak hanya berangkat dari satu suku, adat istiadat hingga masalah keyakinan pribadi akan hal keagamaan, nilai-nilai sosial sangat dibutuhkan dalam komunikasi kita setiap hari, jangan pernah menjadikan sesuatu yang berbeda dari diri kita adalah masalah bahkan menganggapnya sebagai musuh, lebih-lebih beda keyakinan dalam keagamaan, karena hal semacam ini banyak terjadi dikalangan manusia yang tidak bisa menghilangkan rasa keakuannya dalam dirinya, lebih globalnya di indonisia sendiri, bahkan satu agama dan keyakinanpun bentrok dan banyak masalah, lebih-lebih dalam tataran pemerintah yang mana hanya untuk memperebutkan satu kursi saja sudah membunuh saudara-saudarnya yang sama-sama sebangsa ini, ingatlah satu hal bahwa adanya keyakinan yang disebut agama, bukan sebagai ujung tombak permusuhan manusia dan bukan pula permainan politik yang harus di permasalahkan, Satu hal yang perlu dicatat bahwa perbedaan itu pada dasarnya sangat indah, jika kita menyadarinya tengtang keindahan itu sendiri, Dari keindahan inilah yang menjadikan setiap perbedaan sebagai rahmatallilalamin.

Read Full Article

فَإِذَا عَرَفْتَ السَّبَبَ تَعَيَّنَ الْمُرَادُ
“Ketika engkau tahu latar belakangnya, maka jelaslah sesuatu yang dimaksud di dalamnya” (Pepatah Arab).

Di Indonesia, peringatan proklamasi kemerdekaan yang jatuh setiap tanggal 17 agustus dirayakan dengan berbagai macam bentuk perayaan, mulai dari upacara pengibaran sang saka merah putih, menyanyikan lagu kebangsaan, berbagai event perlombaan atau yang lain sebagainya. Masyarakat merayakannya sebagai bentuk pengaplikasian ucapan rasa syukur atas nikmat besar tersebut. Berbagai perayaanpun digelar, mulai dari lingkup yang terkecil di tingkat desa hingga merambah sampai tingkat nasional di Istana Merdeka, Jakarta. Bahkan sebagian kalangan begitu antusias merayakan agenda tahunan bangsa tersebut.

NKRI_dan_idialisme_pesantren

Namun sangat ironis, ketika dibalik semua euforia itu mereka acuh tak acuh atas filosofi dan spirit kemerdekaan yang sebenarnya. Lebih dalam lagi, dirgahayu kemerdekaan Republik Indonesia merupakan salah satu kesempatan untuk mengingatkan kembali spirit perjuangan para Founding Father’s dalam memperjuangkan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan selama berabad-abad lamanya. Sehingga momentum berharga tersebut tidak hanya sebatas simbolis tahunan belaka yang hanya lewat seperti angin lalu. Namun lebih dari itu, dirgahayu kemerdekaan Republik Indonesia benar-benar dimanfaatkan sebagai ajang untuk intropeksi diri (Muhasabah An-Nafs) dan memacu semangat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik dari sebelumnya.

Secara ringkas, ada beberapa hal yang menjadi poin penting dalam menumbuhkan spirit membangun kemerdekaan dalam mengisi dan melanjutkan estafet peradaban bangsa Indonesia, diantaranya adalah:

Semangat Bela Negara

“Cinta tanah air adalah sebagian dari iman”, merupakan salah satu jargon monumental yang dikemukakan oleh Hadlrotus Syaikh KH. Hasyim As’ari dalam membakar semangat bela negara dan nasionalisme kebangsaan. Meskipun penggalan kalimat singkat tersebut bukan termasuk hadis, namun secara esensial tidak jauh beda dengan hadis Rasulullah Saw yang menjelaskan tentang ungkapan kecintaannya terhadap kota suci Makkah. Sebagimana penuturan dari sahabat Ibnu Abbas Ra yang diriwayatkan dari sahabat Ibnu Hibban Ra:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلْدَةٍ وَأَحَبَّكِ إِلَيَّ، وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُونِي مِنْكِ، مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ

“Dari sahabat Ibnu Abbas berkata, Rasulullah Saw bersabda; Alangkah baiknya engkau sebagai sebuah negeri, dan engkau merupakan negeri yang paling aku cintai. Seandainya kauku tidak mengusirku dari engkau, niscaya aku tidak tinggal di selainmu,” (HR. Ibnu Hibban).[1]

Perjuangan_pesantren

Dengan penerapannya yang disesuaikan dengan konteks kebutuhan saat ini, semangat bela negara dapat mengakhiri episode berdarah umat manusia dan menciptakan dialog kehidupan yang rukun dan damai. Bahkan sangat diperlukan untuk memperkuat sendi-sendi kenegaraan dari berbagai paham radikalisme, ekstrimisme, dan semacamnya yang merongrong kebhinnekaan bangsa ini.

Dalam konteks kekinian, aksi nyata dalam semangat bela negara dapat diaplikasikan dengan menjalankan kewajiban sebagai warga negara sesuai dengan kondisi dan kemampuan masing-masing individu masyarakat. Karena dengan begitu, implementasi nyata semangat bela negara dan nasionalisme tidak hanya terbatas pada perlindungan negara, melainkan menjadi sebuah usaha ketahanan, kekuatan, dan kemajuan di berbagai aspek kehidupan.

Menguatkan Simbiosis Agama dan Negara

Di dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali mengatakan:
وَالْمِلْكُ وَالدِّيْنُ تَوْأَمَانِ فَالدِّيْنُ أَصْلٌ وَالسُّلْطَانُ حَارِسٌ وَمَا لَا أَصْلَ لَهُ فَمَهْدُوْمٌ وَمَا لَا حَارِسَ لَهُ فَضَائِعٌ

“Negara dan agama adalah saudara kembar. Agama merupakan dasar, sedangkan negara adalah penjaganya. Sesuatu yang tanpa dasar akan runtuh, dan dasar tanpa penjaganya akan hilang”.[2]

Sekilas, statement yang dilontarkan Imam Al-Ghazali tersebut mengarah kepada pemahaman bahwa antara agama dan negara merupakan dua komponen yang tidak dapat dipisahkan. Dengan artian, keduanya saling membutuhkan untuk saling memperkokoh antara satu dengan yang lainnya. Dan ternyata hal tersebut dirumuskan demi terciptanya kemaslahatan global dalam porsi dan koridor masing-masing, baik yang berhubungan dengan kehidupan keagamaan maupun kehidupan kenegaraan.

Rumusan tersebut bukan bertujuan untuk menumbuhkan asumsi terhadap bentuk hegemoni agama atas negara. Namun cenderung dititikberatkan kepada aspek munculnya norma keagamaan ke dalam ruang publik dan tatanan kenegaraan hanya sebagai nilai moral publik atau etika sosial semata.

Sehingga pemahaman terhadap norma-norma keagamaan sudah saatnya disinkronisasikan dengan pemahaman atas kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena bagaimanapun, negara merupakan sebuah kebutuhan yang sangat penting sebegai media yang melindungi pengimplementasian ajaran agama secara riil dalam kehidupan. Maka, sifat bernegara harus didasari sifat beragama. Dengan gambaran bahwa sikap moderat dan inklusif keagamaan ini juga harus tercermin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sinergi Bersama Pemerintah

Sejarah mencatat, tidak sepenuhnya benar jika rentetan berbagai macam konflik kemanusian yang ada di negara ini hanya terbatas terhadap isu kekuasaan. Faktor ketimpangan ekonomi, kesenjangan sosial, dan berbagai penindasan wewenang yang terajut dalam ketidakadilan juga merupakan kenyataan muara konflik yang sulit dipungkiri.

Negara-dan-pesantren

Dengan demikian, perlua adanya formulasi dan inovasi yang dapat membangun dan memajukan kehidupan umat dari ketertinggalan. Baik kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan, ekonomi, teknologi, budaya dan lain sebagainya. Dan juga harus adanya sosialisasi dan penerapan pemahaman atas formula dan kebijakan yang dianggap lebih maslahat secara merata. Hal tersebut ditujukan demi terciptanya pemikiran nan dinamis dan gerakan yang strategis untuk membangun masyarakat yang maju dan bermoral sebagai pilar kekuatan bangsa.

Dan semuanya tidak akan terwujud tanpa adanya kerjasama dan saling mendukung dengan pihak pemerintah sebagai pemegang wewenang dan kebijakan. Atas dasar itu pula, syariat Islam telah memberi rambu-rambu bagi wewenang dan kebijakan yang harus dijalankan oleh pemerintah. Filosofi tersebut juga sejalan dengan kaidah fiqih:
تَصَرُّفُ الْإِمَامِ عَلَى الرَّعِيَّةِ مَنُوْطٌ بِالْمَصْلَحَةِ

“Kebijakan pemimpin harus berorientasikan kepada kemaslahatan rakyatnya”. [3]

Kaidah tersebut sangat urgen dalam membentuk konsep kebijakan yang diputuskan dan dijalankan pemerintah. Sehinggala segala tindakan yang dilakukan pemerintah benar-benar memprioritaskan kepentingan umum, bukan atas kepentingan pribadi maupun golongan tertentu.

Dari pemaparan singkat tersebut sudah dapat diambil kesimpulan bahwa Islam sebagai ajaran tidak hanya terbatas pada dimensi doktrinal keagamaan. Namun cakupan Islam yang sebenarnya lebih luas, yakni membangun peradaban masyarakat dengan prinsip kemaslahatan, termasuk menjadikannya sebagai spirit membangun kemerdekaan bangsa Indonesia. Sekian, waAllahu a’lam[]

Read Full Article

Memahami agama Islam bukanlah hal yang sangat mudah apalagi kita berada dinegara yang berlandaskan Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal ika, Negara ini Berdiri Bukan untuk saling menghujat,bermusuhan satu sama lain apalagi saling menyalahkan sesama agama islam sendiri, persoalan tengtang beda pemahaman tentang berbagai aliran bukanlah suatu masalah yang besar, karena pada dasarnya kita sama-sama saling memahami tentang Agama islam sebagai rahmatal lilalamin.

Sangat penting bagi kita untuk memahami dulu tentang makna islam sebagai rahmatal lilalamin, makna Rahmat yang diberikan Allah untuk agama islam bukan hanya untuk umat muslim saja, kalimat dibelakang sebagai taukid (penguat), merupakan satu-satunya penjelasan yang sangat indah, karena tidak memakai lafadz Rahmatal lilmuslimin, justru Rahmatal lilalamin, dari sinilah Agama islam justru harus memberikan perdamaian bukan pertiakaian dimana-mana, apalagi sesama umat muslim sendiri.

jihad

Pertanyaan besar yang terjadi pada masa sekarang Ialah Bagaimana dengan perselisihan dan perseteruan di antara umat manusia yang beragama ? apalagi satu agama berbeda keyakinan terkait isi dari agama tersebut ? apakah dengan adanya bukti perseteruan umat beragama ini menjadi bukti bahwa sebenarnya agama tidak berpengaruh sama sekali bahkan tak memiliki manfaat pada mereka? Untuk menjawab pertanyaan yang kritis ini, kita juga harus mampu menganalisis pertanyaan tersebut dengan kritis juga tentunya. Kita harus menarik kebelakang dulu apa latar belakang dari pertanyaan ini? Apakah keheranan pada sikap keberagamaan sebagian orang yang bersikap radikal dan fanatik pada golongan atau justru mereka berupaya untuk mereduksi urgensitas agama bagi seluruh umat manusia? Hal ini yang kita harus tuntaskan dulu untuk menganalisanya, sebelum menjawab semua pertanyaan yang kritis tersebut.

Pada dasarnya jika pertanyaan diatas Berangkat dari unsur keheranan terhadap sikap keberagamaan sebagian orang yang bersikap radikal, maka disini sebenarnya bukan agamanya yang salah, tetapi mereka yang justru harus diluruskan terkait pemahaman dan cara keberagamaannya.

Bicara terkait agama pada dasarnya semua agama yang ada mengajarkan kebaikan, perdamaian serta sikap saling mengasihi terhadap semua manusia dimuka bumi ini, meski terkadang orang menyatakan pada sikap membela dari agamanya berdasarkan sejarah untuk berperang, maka tidak bisa dijadikan sebagai argumen untuk menuduh bahwa agama an sich adalah penyebab perselisihan dan peperangan.

Dalam agama Islam konsep peperangan ini disebut dengan jihad, akan tetapi makna dari peperangan dalam islam tidak semata-mata diartikan untuk membantai seluruh umat manusia yang berbeda keyakinan dengan kita, baik keyakinan beda agama ataupun terkait keyakinan isi dari agama itu sendiri, peperangan yang dikenal dengan jihad fisabilillah dalam islam ditujukan untuk melawan serangan dari musuh yang menyerang lebih dulu atau mengusir musuh dari negri yang ditempati untuk membela kedaulatan agama dan negara ketika suatu daerah atau negara lain melakukan pelecehan seperti membunuh duta besar seperti khalifah yang menyampaikan dakwah sekaligus melanggar perjanjian dan aturan yang telah disepakati sebelumnya.

Sejarah jihad dalam islam yang diterapkan pada masa dulu juga di batasi dengan berbagai larangan, jihad dalam islam tidak semata-mata bertindak anarkis untuk menegakkan hukum Allah, akan tetapi juga memiliki nilai keperimanusiaan dan perikeadilan yang membatasi mereka untuk berjihad , diantaranya Ialah tidak boleh membunuh anak-anak, wanita, dan orang tua, sekaligus tidak diperbolehkan merusak lingkungan.

Namun Pada sisi lain jihad tidak harus dijadikan sebagai penyelesaian utama dari suatu persoalan dan masalah yang terjadi, Apabila suatu daerah atau negara lain bersikap koperatif atas dakwah islam serta menjaga perdamaian yang baik, Maka jihad tidak boleh diterapkan semata-mata pada mereka dengan mengatasnamakan Agama, Umat Islam dapat berdampingan dengan non muslim di suatu daerah secara bersama-sama bahkan juga wajib melindunginya, serta harus menjaga komitmen perdamaian diantara mereka, seperti inilah yang di ajarkan dalam Kitab suci Al-Qur’an, “ Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negrimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS al-Mumtahanah [60]: 8), juga terdapat dalam hadis yang menjadi pedoman bagi seluruh ummat islam.

Jika terjadi peperangan tanpa adanya alasan yang jelas seperti yang terurai diatas, hanya saja sebatas mengatasnamakan membela agama berdasarkan jihad fisabilillah maka hal ini tidak dibenarkan dalam agama islam, kemungkinan besar adanya sebab propaganda yang mengatasnamakan agama dalam berjihad tidak lain antara masalah unsur ekonomi dan politik, hal ini juga dipaparkan oleh Prof DR H mohammad Baharun, SH, MA dalam bukunya Dialog perdamaian: diakletika muslim moderat (2010) mengatakan, “ Citra bahwa agama identik dengan konflik dan perang tidak sepenuhnya dapat dibenarkan. Konflik sebetulnya lebih disebabkan oleh faktor ekonomi dan politik. Hanya saja agama memiliki sistem symbol yang sangat mudah digunakan untuk memobilisasi massa, sehingga konflik ekonomi dan politik itu terlihat seperti benturan suci yang digerakan oleh agama”.

Melihat yang terjadi masa kini seperti cara-cara kekerasan dan teror yang mengatasnamakan jihad fisabilillah untuk menegakkan hukum-hukum Allah disuatu negri, merupakan salah satu cara yang sering digunakan oleh sekelompok golongan Radikal untuk mencapai tujuannya. Pemahaman radikalisme agama sebagai fenomena tidak lain merupakan kegelisahan berlebihan yang dialami oleh seseorang, hal ini terjadi tidak lain karena dua faktor, pertama adakalanya karena pikiran seseorang yang hampa, kedua adakalanya karena pandangan pesimis sebagai akibat ketidaktahuan pada hukum-hukum Agama.

Paham radikal merupakan hal yang sengat membahayakan bagi ummat muslim itu sendiri, sejarah Radikalisme bukan hanya terjadi pada zaman sekarang, hal ini sudah terjadi pada masa tampuk kepemimpinan islam khalifah Sayyidina ALI R.A. Sejarah menyatakan Radikalisme muncul sejak terjadinya perang Shiffin pada tahun 35 H, yang melibatkan pertempuran pemerintah yang sah dari pihak Sahabat Ali bin Abi Thalib R.A berhadapan dengan Mu’awiyah bin Abi sufyan R.A selaku Gubernur Syam (Suriah). Dilanjutkan lagi dengan adanya perang Jamal pada tahun 36 H, yang dipimpin langsung oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib R.A melawan Aisyah R.A istri Rosulullah SAW. Terdapat sejarah yang lain bahwa terjadinya pemahaman Radikalisme dengan mengatasnamakan Jihad fisabilillah demi menegakkan hukum Allah terjadi saat peristiwa terbunuhnya Sayyidina Ali R.A yang dibunuh oleh Abdullah bin Muljam dengan mengatasnamakan unsur agama dengan alasan supaya mendapatkan kejayaan dunia akhirat sekaligus awal mulanya pengucapan kalimat la hukma illa lillah.
Setelah terjadinya peristiwa tersebut maka muncul beberapa firqoh-firqoh (kelompok/golongan) yang mulai paham Radikalisme hingga berkembang sampai masa sekarang :

Pertama, golongan Syiah. Mereka komunitas islam yang mengklaim membela mati-matian Sahabat Ali bin Abi Thalib R.A.

Kedua, golongan Jabariyah. Yang berkeyakinan suatu kejadian maupun segala sesuatu sepenuhnya tersentral kepada Allah SWT.

Ketiga, golongan Khawarij. Mereka tidak sepaham dengan barisan kubu sahabat Ali bin Abi Thalib R.A dan pengikutnya. Sebagai respon balik dari kelompok ini, muncul suatu gerakan kelompok ummat islam yang tidak sepaham dengan ummat islam lain yang terkenal dengan sebutan Murjiah.
Keempat, golongan netral. Mereka adalah kelompok ummat Islam moderat di tengah masyarakat muslim. Perlu diketahui kelompok mereka ini diantaranya adalah Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Mas’ud R.A, yang secara lansung atau tidak langsung mengembangkan nilai-nilai agama islam.

Sejarah singkat berkembang pesatnya radikalisme ini dimulai oleh radikalisme khawarij sebagai benih gerakan radikal dalam sejarah umat islam, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Abu Zahra sebagai berikut :

1. Mendesak sayyidina Ali R.A untuk damai dengan mu’awiyah R.A dipenghujung perang shiffin.

2. Menentukan juru damai, yaitu Abu Musa al-Asy’ari R.A dari pada pilihan Sayyidina Ali R.A yaitu Abdullah bin Abbas R.A.

3. Pasca kekalahan menganggap Sayyidina Ali R.A melakukan dosa besar dan menyuruh tobat darinya, bahkan menganggapnya telah kafir.

4. Mengoar-ngoarkan jargon : la hukma illa lillah (tidak ada hukum kecuali milik Allah).

5. Menjadi aliran yang paling ekstrim dalam memaksakan pendapatnya kepada pihak lain.

Pemahaman Radikalisme khawarij ini berkembang menjadi ekstrim sekaligus menebar teror dan aksi anarkis terhadap umat islam semenjak pembunuhan yang dilakukan terhadap Abdullah bin Khabbab R.A karena tidak menganggap Sayyidina Ali R.A telah musrik dan meyakininya sebagai perintah al-Qur’an, pengafiran terhadap orang yang tidak sepaham dengannya.

Pertanyaan yang banyak terjadi Bagaimana dengan perselisihan antar umat dalam satu agama pada saat sekarang, apalagi sesama agama banyak golongan yang saling menghujat dan menyalahkan satu sama lain? Sebenarnya perselisihan antar umat dalam satu agama yang terjadi sekarang ini bukanlah perintah dari agama tersebut, karena setiap agama mengajarkan persatuan diantara pemeluknya. Dalam hal ini, sangat penting bagi kita untuk kembali menganalisa bahwa perselisihan dan perbedaan pendapat ini sangat berbeda. Perbedaan pendapat sesama umat muslim ini merupakan Rahmat bagi seluruh umat islam. Perbedaan pendapat juga tidak terjadi saat zaman sekarang saja, hal ini sudah terjadi pada masa sahabat yang masih hidup semasa dengan Rosulullah, hal ini membuktikan bahwa perbedaan pendapat bukanlah masalah yang harus dibesar-besarkan. Itulah jawaban apabila pertanyaan diatas dilatar belakangi oleh keheranan pada sikap keberagamaan sebagian orang yang bersikap radikal dan fanatik golongan.

Disisi lain Jika mempertanyakan perselisihan antar umat dalam satu agama itu karena ingin mereduksi urgensitas agama, maka keinginan itu takkan terwujud, mengapa demikian ? karena agama merupakan jalan atau jembatan dari perjalanan umat manusia dalam kebenaran, banyangkan saja jika didunia ini tidak ada agama bagaimana moral dan sikap manusia. Agama adalah kebutuhan manusia. Semakin keras usaha manusia untuk mereduksi atau bahkan melarang agama, maka agama akan semakin kuat tertanam dalam hati para pemeluknya.

Deradikalisisi sebagai bentuk kepedulian kita terhadap agama dan keutuhan NKRI sangat penting sekali untuk diperhatikan dan terus dilanjutkan, Sebab Rosulullah SAW bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah R.A yang artinya “Sesunguhnya Allah Maha Lembut, menyukai kelembutan, dia memberikan pada kelembutan sesuatu yang tidak diberikan pada kekerasan dan sesuatu yang tidak diberikan kepada selainnya.”
Maka hemat saya janganlah sekali-kali kita berbicara terkait suatu golongan dalam agama, dimana kita selalu mengkaitkan dengan Firman Allah yang artinya : “pada hari ini telah kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah kusempurnakan kepadamu nikmatku, dan telah kuridhoi islam sebagai agama bagimu. (QS. Al-Maidah [5]:3), dalam ayat ini terdapat agama islam telah sempurna, pemahaman kebanyakan orang ialah karena agama telah sempurna maka jangan ditambah-tambahi dan jangan dikurang-kurangi. Namun pernyataan dari orang seperti ini mereka tidak pernah menyadari bahwa yang menambahi ini siapa? lalu yang mengurangi siapa? Islam memang telah sempurna akan tetapi dari kesempurnaan agama islam jangan dikecilkan oleh umat islam itu sendiri dari perbedaan pendapat keyakinan suatu golongan, Biasanya perbedaan pendapat ini terjadi ketika kita berbicara tengtang tata cara ibadah didalam agama berlandaskan ijmak ulama’, selain dari itu kita sama-sama percaya bahwa sholat dhuhur berjumlah empat roka’at, maka ini sangat jelas tidak boleh ditambah dan tidak boleh dikurangi karena ini sudah ketetapan.

Radikalisme modern terjadi berdasarkan dari pemahaman yang tekstualis, ekstrim, tidak menerima perbedaan, serampangan dalam menyesatkan, mebid’ahkan, dan mengkafirkan orang lain yang berbeda penafsiran dengannya, kemudian pada gilirannya berpotensi besar menebar kebencian dan melancarkan aksi-aksi anarkis-teroris yang mengancam keutuhan bangsa.

Selain berbagai perbedaan pendapat yang menjadikan salah satu penyebab radikalisme, sisi lainnya ialah terlalu berlebihan dalam menyikapi persoalan perbedaan dalam agama yang artinya terlalu berlebih-lebihan dalam urusan agama. Hal ini telah ditegaskan oleh Rosulullah dalam hadisnya yang diriwayatkan oleh Ibn abbas R.A bahwa Rosululah SAW bersabda : “Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam Agama. Sungguh umat sebelum kalian binasa karena berlebih-lebihan dalam agama”.

Dari hal inilah untuk menjaga keutuhan seluruh umat beragama dalam lingkup tanah air yang satu Nusa satu bangsa yaitu bangsa Indonesia, sangat perlu kita menurunkan sikap dan sifat Radikal yang menyalahi aturan, baik dalam aturan Agama islam sendiri dan aturan negara ini, maka bagi seluruh umat muslim wajib hukumnya saling mengingatkan satu sama lain jika terdapat kesalahan dalam diri seseorang, serta hargailah pendapat orang lain walaupun berbeda dari kita, karena manusia pada dasarnya sangatlah rugi dalam menjalani kehidupan ini kecuali orang yang saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran, persoalan orang lain menirima atau tidak atas saran kita selebihnya hak mereka, hanya saja tugas kita saling melengkapi satu sama lain untuk mempertahankan dan menjaga kesatuan NKRI, Pesan saya adalah Adakalanya kita membuka mata lebar-lebar, membuka telinga lebar-lebar dan menutup mulut rapat-rapat.

Read Full Article

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Nam molestie molestie nisl, eu scelerisque turpis tempus at. Nam luctus ultrices imperdiet. Vestibulum quis mattis urna. Class aptent taciti sociosqu ad litora torquent per conubia nostra, per inceptos himenaeos. Curabitur posuere metus non velit luctus non rhoncus nunc lobortis. Nunc tincidunt augue in lacus molestie et laoreet risus molestie. Proin metus nisl, mollis ut cursus at, venenatis sit amet elit. Vivamus lobortis pellentesque justo. Etiam iaculis ultricies felis, ac tristique neque varius vel.

  •  Bibendum in cursus venenatis
  • Ultricies consectetur purus
  • Integer imperdiet lectus vitae

Nunc odio odio, faucibus non porta a, venenatis non mauris. Nam non tortor est. Nullam lacinia, augue quis luctus ullamcorper, sem urna bibendum erat, sed viverra tortor velit sed quam. Sed adipiscing leo a odio condimentum in placerat ipsum bibendum. Nam pretium, sem iaculis ullamcorper mattis, sem lacus commodo dui, vel ultrices libero nisl et massa. Sed tristique bibendum arcu, dapibus eleifend justo aliquet eu. Fusce sed blandit lorem. Phasellus blandit posuere nulla quis aliquam. In vel ante vitae neque aliquet hendrerit a non velit.

In hac habitasse platea dictumst. Integer ac ante enim, in imperdiet justo. Sed justo mi, convallis et lobortis a, venenatis at odio.

Aliquam luctus mi sit amet sem viverra mollis. Pellentesque sit amet diam non lectus sodales placerat. Nullam vel aliquam velit. Morbi varius feugiat nulla, sit amet venenatis leo mattis vitae. Nunc nec turpis quis turpis adipiscing commodo. Donec sit amet eros magna, sit amet lacinia diam. Mauris libero purus, pretium ut ultricies non, vulputate eu ipsum.

Read Full Article

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Nam molestie molestie nisl, eu scelerisque turpis tempus at. Nam luctus ultrices imperdiet. Vestibulum quis mattis urna. Class aptent taciti sociosqu ad litora torquent per conubia nostra, per inceptos himenaeos. Curabitur posuere metus non velit luctus non rhoncus nunc lobortis. Nunc tincidunt augue in lacus molestie et laoreet risus molestie. Proin metus nisl, mollis ut cursus at, venenatis sit amet elit. Vivamus lobortis pellentesque justo. Etiam iaculis ultricies felis, ac tristique neque varius vel.

  •  Bibendum in cursus venenatis
  • Ultricies consectetur purus
  • Integer imperdiet lectus vitae

Nunc odio odio, faucibus non porta a, venenatis non mauris. Nam non tortor est. Nullam lacinia, augue quis luctus ullamcorper, sem urna bibendum erat, sed viverra tortor velit sed quam. Sed adipiscing leo a odio condimentum in placerat ipsum bibendum. Nam pretium, sem iaculis ullamcorper mattis, sem lacus commodo dui, vel ultrices libero nisl et massa. Sed tristique bibendum arcu, dapibus eleifend justo aliquet eu. Fusce sed blandit lorem. Phasellus blandit posuere nulla quis aliquam. In vel ante vitae neque aliquet hendrerit a non velit.

In hac habitasse platea dictumst. Integer ac ante enim, in imperdiet justo. Sed justo mi, convallis et lobortis a, venenatis at odio.

Aliquam luctus mi sit amet sem viverra mollis. Pellentesque sit amet diam non lectus sodales placerat. Nullam vel aliquam velit. Morbi varius feugiat nulla, sit amet venenatis leo mattis vitae. Nunc nec turpis quis turpis adipiscing commodo. Donec sit amet eros magna, sit amet lacinia diam. Mauris libero purus, pretium ut ultricies non, vulputate eu ipsum.

Read Full Article