Bulan: Agustus 2017

  • PUISI-SANTRI

*SANTRE PANGARANGAN

Tangisku
Aku yang berduka
Karna gemuruh langit tak lagi bersuara
Jalan-jalan pun masih lengket dengan stempel tinta hitam
Namun bendera itu tak lagi berwarna
Tiba-tiba darahku tak merah lagi
Mataku putih di bawah hitam
Menyisakan harapan yang terbakar
Lalu Aku beringsut dari duka
Yang membuatku kecewa
Lantaran garuda tak lagi bersuara
Tangiskau
Ia yang bersedih
Karena air mata
Tak kan mengajarkanmu lupa
Walau angin telah bernafas dengan waktu
Kini tiba saatnya kita lantunkan sejarah itu Indonesia raya
Ya, Indonesia raya
Tanah darah kita
Bukan tanah milik kita
Merdeka bagimu, kecewa bagiku
Lantaran aku tak mampu memurnikan sejarah kita
Lantaran aku tak mampu memurnikan sejarah tanah air kita
Lantaran aku tak mampu memurnikan sejarah tanah tumpah darah kita
Lantaran aku tak mampu memurnikan sejarah negara
Lantaran aku tak mampu memurnikan sejarah bangsa
Lalu aku berduka, Aku bersedih
Namun, aku melarang mu menangis
Karena tangisku itulah dukamu
Yang menyisakan kesedihan, kepedihan dalam rindumu
Aku melihat
Aku menatap
Aku menyaksikan
Itukah aku
Itukah kau
Dan itukah kita
Menyebutnya BHINNEKA TUNGGAL IKA
Merdeka
Ya merdeka
Aku merdeka
Kau merdeka
Kita merdeka
Namun, kita tetaplah kau dan aku
Bukan kalian.

Read Full Article

upacara-pp-mathaliulanwar

Mathali’ul Anwar – Santri pangarangan memperingati hari kemerdekaan indonesia yang ke 72, dalam upacara tgl 17 agustus 2017 kemaren berbeda dengan yang kota santri yang lain, kali ini para santri yang juga sekolah formal dibawah naungan sekolah SMA dan SMP Yayasan Abdullah (YAS’A) memperingati dengan pakaian batik yang juga sebagai seragam mereka untuk sekolah formal, biasanya tahun-tahun sebelumnya,semuanya memakai pakaian merah putih atau seragam sekolah putih abu-abu.

Selain para santri, para asatidz dan jajaran guru sekolah formal yang ikut mendampingi kepala sekolah juga ikut menyanyikan lagu indonesia raya sebagai momentum memperingati perjuangan dimasa dulu, upacara ini sangat unik sekali karena para santri yang secara keseluruhan baik yang sekolah formal ataupun non formal semuanya sama-sama ikut melakukan prosesi pingibaran bendera merah putih, salah satu santri salaf menyatakan bahwa adanya pondok pesantren diindonesia adalah awal dari kemerdakan indonesia yang diproklamasikan oleh soekarno, sebab pondok pesantren memiliki peran besar diindonesia,

Fakta sejarah menyatakan bahwa pahlawan nasional yang berkontribusi besar atas kemerdekaan indonesia ini tidak lepas dari para ulama’ dan kiai yang ada di seluruh nusantara ini termasuk K.H Hasyim As’ari yang merupakan salah satu santri dari Syaikhona KHOLIL Bangkalan, ujar shofwan selaku santri sekaligus asatidz pondok pesantren mathali’ul anwar.

Disisi lain para santri juga menjadikan hari ulang tahun kemerdekaan republik indonesia ini sebagai ajang semangat baru untuk memulai hal yang baik kedepannya yaitu fastabiqol khoirot, yang artinya berloma-lomba dalam kebaikan. Bagi para santri Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) pada tanggal 17 Agustus 1945 memiliki arti, makna dan hikmah bila ditarik dalam kajian studi Islam. Menurut Islam, kemerdekaan yang sesungguhnya adalah bebas untuk bertindak karena manusia adalah makhluk yang diberikan otonomi dan kepercayaan sebagai khalifah fil ardh, pemimpin di bumi. Namun, kemerdekaan itu dibatasi dengan hukum-hukum dalam syariat Islam.

Semua syariat Islam bisa ditemukan dalam Al Quran sebagai sumber utama hukum Islam. Ada pula hadits yang menjadi sumber hukum Islam kedua. Kemerdekaan itu jelas ada batasnya, karena sudah ada aturan yang menjadi petunjuk supaya manusia bisa hidup dengan baik di dunia, ujar junaidi selaku pengurus pondok pesantren.

Read Full Article

Indonesia merderka bagimu, kecewa bagiku, Terlihat sejenak tengtang satu bait puisi yang sangat banyak menyimpan beberapa pertanyaan tengtang sebenarnya Indonesia yang sangat dikenal dengan sebutan NKRI ini. Kemerdekaan Indonesia ini yang telah lama menjadi Negara dan Bangsa serta berdaulat dengan dirinya sendiri sangat patut dicurigai keberdaulatannya. Biasanya pertanyaan yang sering kali akrab ditanyakan dikalangan pemuda apakah Negara ini sudah benar-benar murni merdeka yang berdaulat secara mandiri sekaligus menjalankan terhadap asas-asas idiologi pancasila yang bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Lantas pergerakan apa yang dilakukan oleh pemuda dan orang tua yang masih memengang tampuk kekuasaan saat ini, Berbicara Negara kesatuan Republik Indonesia ini, sama halnya berbicara pemuda didalamnya, Khususnya mahasiswa yang dikenal dengan sosok pemuda yang gagah dan berani, apalagi pemuda sekarang yang akan menentukan atas terwujudnya Indonesia emas pada tahun 2045. Namun pertanyaanya adalah pemuda seperti apa yang bisa mewujudkan impian itu, pada realitanya pemuda saat ini sudah sangat apatis dan pragmatis, Lebih-lebih dibidang pendidikan. Semuanya telah diperbudak dengan politik yang praktis dan takkaruan yang selalu saja mengatas namakan organisasi. Fakta yang terjadi adalah pada saat zaman sekarang, sangat banyak orang yang pintar dan Cerdas bahkan memiliki ilmu yang melebihi orang-orang terdahulu baik dalam segala aspek sudut pandang keilmuan, namun kenapa tidak bermanfaat sama sekali, ilmu yang mereka proleh hanya dijadikan sebagai alat jual main politik untuk mengejar kekuasaan dan kemegahan harta dunia. Seperti halnya lomba karya tulis saat ini, apakah ini tidak bermain politik didalamnya. Mengispirasi bangsa tidak harus dengan jalan menulis yang di lombakan dengan memakai uang pendaftaran yang dibikin tertarik dengan hadiah yang ditawarkan didalamnya dan tidak pula harus bekerja sama dalam satu naungan organisasi, ini yang kerap sekali dilakukan supaya kita bisa unggul dari pada yang lain, poin sebenarnya yang harus dilakukan sekaligus disadari adalah Ibda’ binafsi {mulailah dengan diri sendiri}, Ajaran Agama manapun tidak pernah mengajarkan yang benar itu jadi salah dan yang salah menjadi benar, akan tetapi dalam dunia politik yang selalu mengatasnamakan organisasi telah mengajarkan sebaliknya. Pemuda seperti inikah yang akan membuat mimpi dari indonisia emas 2045 akan terwujud.

memahami-falsafah-soekarno

Sadarilah sejenak dengan berfikir yang disertai dengan imajenasi untuk melihat dan memperhatikan kembali terhadap orang-orang terdahulu, dimana kejadian-kejadian di masalalu yang merupakan sejarah yang tak terlupakan dari sebuah perjuangan untuk mepertahankan Indonesia, seperti peristiwa sejarah lahirnya sumpah pemuda pada tahun 1928, yang harus dijadikan pola berfikir dan sudut pandang kita untuk menatap masa depan yang bukan hanya mengandalkan keberanian saja, mengapa demikian,? perhatikan dan amatilah seseorang yang hidup dimasa dulu tentang prilaku dan sifatnya, bahkan yang paling penting adalah orang yang hidup dimasa dulu dimana sistem teknologi belum berkembang pesat, pola hidup mereka semua tidak pernah memiliki ketertarikan akan harta duniawi, tidak gila hormat dan jabatan, hal yang telah dilakukan oleh orang-orang dahulu ini sangatlah kecil bagi kita sekarang, karena mereka hanya membaca sejarah sebagai perjuangan semata, bahkan jarang ditemukan untuk kaum pemuda saat ini, mencontoh bahkan menerapkan budaya-budaya terdahulu, Entah karena kondisi mereka dulu mendarah danging pada budaya masing-masing yang sangat dipengang erat, sehingga mereka mempunyai solidaritas yang tinggi ataupula hidupnya dijamin oleh pemerintah seperti ekonomi dan kesehatannya, sehingga mereka tidak pernah merasa kekurangan dan rakus akan kehormatan dunia yang bisa dibeli dengan harta kekayaan seseorang seperti yang sudah terjadi pada masa kini khususnya para pemuda. Sepeti yang dikutip langsung oleh Agus Sunyoto dalam bukunya “Atlas Walisongo dan NU Deso Wahhabi Kota” dan Prof. Mansur Surya Negara dalam bukunya yang berjudul “Api Sejarah”
Sebagian besar dari kalangan kaum pemuda dan pemudi apalagi yang bergelar mahasiswa telah memahami maksud dan tujuan lahirnya Sumpah Pemuda yang di bacakan oleh Soegondo pada tanggal 28 Oktober 1928.

lantas pada saat ini, kita sebagai kalangan pemuda, lebih-lebih sebagai pelajar selalu saja mengkait-kaitkan dengan perkataan Soekarno ”beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku sepuluh pemuda niscaya akan ku guncangkan dunia”. Namun pada hakikatnya kita tak pernah mencoba merealisasikan bahkan berimajinasi sekilas antara sumpah pemuda dengan perkataan Soekarno dalam konteks pengkajian pemuda dan orang tua. Pidato yang disampaikan Soekarno berbasis bahasa majasi atau sebuah falsafah hidup, contoh sederhananya kenapa Soekarno tidak membalik perkataanya tersebut? Mungkin saja kalau kita tarik kesimpulan secara mendasar akan berwacana bahwa pemuda lebih hebat dari pada orang tua, akan tetapi konteks kajian di dalamnya bukanlah hal itu melaikan bahasa falsafah yang terkandung di dalamnya, yaitu yang muda harus di sayangi dan yang tua harus di hormati, sehingga terciptalah tali silaturrahmi. Kalimat “seribu orang tua mampu mencabut semeru dari akarnya” dan “ pemuda mampu menggucangkan dunia” itulah falsafah, sedangkan semeru adalah gunung sebagai falsafah yang harus dikaji. Tanpa kita sadari, gunung adalah salah satu pilar bumi yang sangat berpengaruh besar atas kekuatanya, hal itu telah di tegaskan di dalam ayat suci al-qur’an surah al-anbiya ayat 31; yang artinya “dan telah kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka…” Dalam Surah an-naba ayat 6-7; ”bukankah telah kami jadikan bumi sebagai hamparan dan kami jadikan gunung gunung sebagai pasak?” Juga terdapat Dalam surah an-nahl ayat 15 “dan dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi ini tidak berguncang bersama kamu”. Mengacu pada penegasan ayat di atas, sederhananya bagaimana mungkin sepuluh pemuda bisa mengguncangkan dunia, kalau seribu orang tua belum mencabut semeru dari akarnya.

Teori pandang kita yang kedua mengacu pada Sumpah Pemuda. Dalam isi sumpah pemuda ada kalimat “mengaku bertumpah darah yang satu tanah Indonesia”, “mengaku berbangsa yang satu bangsa Indonesia”, “menjungjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Lantas kenapa fakta yang terjadi, pemuda dan pemudi saling menumpahkan darah demi kerakusan mereka yang gila akan pangkat, tahta dan jabatan, sehingga mereka saling menjatuhkan antar sesama di Bumi Pertiwi. Lalu kapan Indonesia akan maju jika pemudanya saja sudah rakus akan hal seperti itu, mereka tak pernah mau berfikir akan kemajuan sebuah bangsa. Fakta yang kedua, kenapa banyak para pemuda yang pengangguran? Mereka bekerja di bawah jajahan Chinese (secara tidak langsung). Dan mengapa banyak rakyat Indonesia yang jadi budak di luar negri. Dan fakta yang ketiga mengapa para pemuda sudah hampir menghilangkan bahasa persatuan yaitu Bahasa Indonesia, dengan semakin berkembangannya zaman apakah bahasa kita akan di tukar dengan Bahasa Asing? Apakah sumpah para pemuda hanya di jadikan sebagai alat Ceremonial momentum belaka? Atau justru para pemuda era modernisasi saat ini hanya bisa mengenang tanpa merayakan Sumpah Pemuda yang menjadi bagian sejarah kemerdekaan? Di manakah pergerakan sepuluh pemuda yang kekuatanya melebihi seribu orang tua? Benarkah para pemuda itu telah bersumpah? Hanya kepadamu aku bertanya…???

Sumpah-pemuda

Inilah kesalahan para pemuda masa kini tidak pernah menanyakan seperti apa lahirnya sumpah pemuda dulu, gerakan sosial seperti apa yang digerakkan masa perjuangan pemuda dulu, yang selalu saja kalah berperang dengan dirinya sendiri, pemuda terlalu panjang melihat berbagai persolaan kehidupan, meskipun penilayan terhadap pemuda lebih-lebih mahasiswa yang dilihat secara kasap mata mereka mampu bergerak dibidang politik, ekonomi, social, budaya, dan teknologi, akan tetapi secara mendasar mereka lebih cendrung menyerah sebelum bertarung dalam segala aspek kehidupan masa kini. Salah satu fakta yang menarik adalah berkembangnya teknologi yang dipadukan dengan politik praktis masa kini, yang kesemuanya tanpa sadar telah diperbudak barang yang tidak bernyawa namun mampu membunuh orang lain. Apalagi disatukan dengan dunia perpolitikan yang sangat tidak jelas alurnya, ingatlah satu hal bahwa dunia politik sistemnya adalah membunuh, kalau kita tidak membunuh maka kita akan terbunuh.

Politik dalam Bahasa arabnya adalah ”Siasah” yang mana asalnya adalah sasa, yasusu, siasatan, dan setiap siasat itu menyesatkan, dari sudut pandang inilah yang sangat jarang disadari oleh pemuda, dimana mereka cendrung berfikir kekuasaan adalah segala-galanya, dengan kekuasaan inilah pemuda berlomba-lomba dalam kesenangan dunia yang selalu disangkut pautkan dengan satu pondasi “fastabiqul khoirot” padahal realita yang terjadi tidak seperti demikian, justru mereka berlomba-lomba untuk saling menikam sesama saudaranya sendiri.

Pemuda adalah pemimpin dimasa datang, sekilas kata-kata tersebut tidak asing lagi, namun sudut pandang yang harus dicermati dari para pemuda untuk jadi pemimpin adalah pola berfikir yang kritis dan terlalu berlebihan dalam menyikapi masalah dengan fikirannya, sehingga suatu hal yang harampun bisa menjadi halal, inilah yang terjadi saat ini, karena pemuda sekarang tidak pernah berimajenasi dalam hidupnya, bahkan tidak pernah mengisi otak dan hatinya dengan ajaran ilmu yang lebih utama dalam bidang keagamaan yang merupakan keyakinan akan ketentuan hidup kita setelah kematian.

damai-indonesia

Satu-satunya hal yang harus dilakukan pemuda saat ini adalah saling mengingatkan satu sama lain, dan jangan pernah melihat siapa yang memberikan saran dan kritikan terhadap kita, dan satu hal lagi jangan pernah merasa malu untuk belajar dari seseorang yang usianya lebih muda dari pada kita, karena hal ini sudah dijelaskan dalam QS. Ash’r, ayat 1-3 yang artinya : “Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling memberikan nasehat supaya mentaati kebenaran dan saling menasehati supaya menetapi kesabaran”. hal inilah yang sering kali diabaikan oleh diri kita, padahal kalau kita mencoba lagi memahami dari arti ayat tersebut sangatlah besar nilai sosial di dalalmnya. Kalau kita mengkaji kembali ayat diatas, dengan amat sederhana kita akan menemukan satu titik yang sangat wajib untuk kita lakukan, Namun kebanyakan mereka mengabaikan hal yang wajib kita lakukan seperti perintah tuhan kepada kita sesuai dengan ayat diatas, bahkan kadang kala kita mengabaikannya, Saling menasehati dalam kebenaran serta menasehati dalam kesabaran kita anggap hal itu bukan perintah yang wajib kita lakukan terhadap sesama manusia lebih hususnya muslim akan lebih paham lagi tentang kandungan makna didalam ayat tersebut, apalagi kita sebagai rakyat indonisia, satu bangsa dan satu bahasa yang tidak hanya berangkat dari satu suku, adat istiadat hingga masalah keyakinan pribadi akan hal keagamaan, nilai-nilai sosial sangat dibutuhkan dalam komunikasi kita setiap hari, jangan pernah menjadikan sesuatu yang berbeda dari diri kita adalah masalah bahkan menganggapnya sebagai musuh, lebih-lebih beda keyakinan dalam keagamaan, karena hal semacam ini banyak terjadi dikalangan manusia yang tidak bisa menghilangkan rasa keakuannya dalam dirinya, lebih globalnya di indonisia sendiri, bahkan satu agama dan keyakinanpun bentrok dan banyak masalah, lebih-lebih dalam tataran pemerintah yang mana hanya untuk memperebutkan satu kursi saja sudah membunuh saudara-saudarnya yang sama-sama sebangsa ini, ingatlah satu hal bahwa adanya keyakinan yang disebut agama, bukan sebagai ujung tombak permusuhan manusia dan bukan pula permainan politik yang harus di permasalahkan, Satu hal yang perlu dicatat bahwa perbedaan itu pada dasarnya sangat indah, jika kita menyadarinya tengtang keindahan itu sendiri, Dari keindahan inilah yang menjadikan setiap perbedaan sebagai rahmatallilalamin.

Read Full Article

فَإِذَا عَرَفْتَ السَّبَبَ تَعَيَّنَ الْمُرَادُ
“Ketika engkau tahu latar belakangnya, maka jelaslah sesuatu yang dimaksud di dalamnya” (Pepatah Arab).

Di Indonesia, peringatan proklamasi kemerdekaan yang jatuh setiap tanggal 17 agustus dirayakan dengan berbagai macam bentuk perayaan, mulai dari upacara pengibaran sang saka merah putih, menyanyikan lagu kebangsaan, berbagai event perlombaan atau yang lain sebagainya. Masyarakat merayakannya sebagai bentuk pengaplikasian ucapan rasa syukur atas nikmat besar tersebut. Berbagai perayaanpun digelar, mulai dari lingkup yang terkecil di tingkat desa hingga merambah sampai tingkat nasional di Istana Merdeka, Jakarta. Bahkan sebagian kalangan begitu antusias merayakan agenda tahunan bangsa tersebut.

NKRI_dan_idialisme_pesantren

Namun sangat ironis, ketika dibalik semua euforia itu mereka acuh tak acuh atas filosofi dan spirit kemerdekaan yang sebenarnya. Lebih dalam lagi, dirgahayu kemerdekaan Republik Indonesia merupakan salah satu kesempatan untuk mengingatkan kembali spirit perjuangan para Founding Father’s dalam memperjuangkan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan selama berabad-abad lamanya. Sehingga momentum berharga tersebut tidak hanya sebatas simbolis tahunan belaka yang hanya lewat seperti angin lalu. Namun lebih dari itu, dirgahayu kemerdekaan Republik Indonesia benar-benar dimanfaatkan sebagai ajang untuk intropeksi diri (Muhasabah An-Nafs) dan memacu semangat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik dari sebelumnya.

Secara ringkas, ada beberapa hal yang menjadi poin penting dalam menumbuhkan spirit membangun kemerdekaan dalam mengisi dan melanjutkan estafet peradaban bangsa Indonesia, diantaranya adalah:

Semangat Bela Negara

“Cinta tanah air adalah sebagian dari iman”, merupakan salah satu jargon monumental yang dikemukakan oleh Hadlrotus Syaikh KH. Hasyim As’ari dalam membakar semangat bela negara dan nasionalisme kebangsaan. Meskipun penggalan kalimat singkat tersebut bukan termasuk hadis, namun secara esensial tidak jauh beda dengan hadis Rasulullah Saw yang menjelaskan tentang ungkapan kecintaannya terhadap kota suci Makkah. Sebagimana penuturan dari sahabat Ibnu Abbas Ra yang diriwayatkan dari sahabat Ibnu Hibban Ra:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلْدَةٍ وَأَحَبَّكِ إِلَيَّ، وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُونِي مِنْكِ، مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ

“Dari sahabat Ibnu Abbas berkata, Rasulullah Saw bersabda; Alangkah baiknya engkau sebagai sebuah negeri, dan engkau merupakan negeri yang paling aku cintai. Seandainya kauku tidak mengusirku dari engkau, niscaya aku tidak tinggal di selainmu,” (HR. Ibnu Hibban).[1]

Perjuangan_pesantren

Dengan penerapannya yang disesuaikan dengan konteks kebutuhan saat ini, semangat bela negara dapat mengakhiri episode berdarah umat manusia dan menciptakan dialog kehidupan yang rukun dan damai. Bahkan sangat diperlukan untuk memperkuat sendi-sendi kenegaraan dari berbagai paham radikalisme, ekstrimisme, dan semacamnya yang merongrong kebhinnekaan bangsa ini.

Dalam konteks kekinian, aksi nyata dalam semangat bela negara dapat diaplikasikan dengan menjalankan kewajiban sebagai warga negara sesuai dengan kondisi dan kemampuan masing-masing individu masyarakat. Karena dengan begitu, implementasi nyata semangat bela negara dan nasionalisme tidak hanya terbatas pada perlindungan negara, melainkan menjadi sebuah usaha ketahanan, kekuatan, dan kemajuan di berbagai aspek kehidupan.

Menguatkan Simbiosis Agama dan Negara

Di dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali mengatakan:
وَالْمِلْكُ وَالدِّيْنُ تَوْأَمَانِ فَالدِّيْنُ أَصْلٌ وَالسُّلْطَانُ حَارِسٌ وَمَا لَا أَصْلَ لَهُ فَمَهْدُوْمٌ وَمَا لَا حَارِسَ لَهُ فَضَائِعٌ

“Negara dan agama adalah saudara kembar. Agama merupakan dasar, sedangkan negara adalah penjaganya. Sesuatu yang tanpa dasar akan runtuh, dan dasar tanpa penjaganya akan hilang”.[2]

Sekilas, statement yang dilontarkan Imam Al-Ghazali tersebut mengarah kepada pemahaman bahwa antara agama dan negara merupakan dua komponen yang tidak dapat dipisahkan. Dengan artian, keduanya saling membutuhkan untuk saling memperkokoh antara satu dengan yang lainnya. Dan ternyata hal tersebut dirumuskan demi terciptanya kemaslahatan global dalam porsi dan koridor masing-masing, baik yang berhubungan dengan kehidupan keagamaan maupun kehidupan kenegaraan.

Rumusan tersebut bukan bertujuan untuk menumbuhkan asumsi terhadap bentuk hegemoni agama atas negara. Namun cenderung dititikberatkan kepada aspek munculnya norma keagamaan ke dalam ruang publik dan tatanan kenegaraan hanya sebagai nilai moral publik atau etika sosial semata.

Sehingga pemahaman terhadap norma-norma keagamaan sudah saatnya disinkronisasikan dengan pemahaman atas kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena bagaimanapun, negara merupakan sebuah kebutuhan yang sangat penting sebegai media yang melindungi pengimplementasian ajaran agama secara riil dalam kehidupan. Maka, sifat bernegara harus didasari sifat beragama. Dengan gambaran bahwa sikap moderat dan inklusif keagamaan ini juga harus tercermin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sinergi Bersama Pemerintah

Sejarah mencatat, tidak sepenuhnya benar jika rentetan berbagai macam konflik kemanusian yang ada di negara ini hanya terbatas terhadap isu kekuasaan. Faktor ketimpangan ekonomi, kesenjangan sosial, dan berbagai penindasan wewenang yang terajut dalam ketidakadilan juga merupakan kenyataan muara konflik yang sulit dipungkiri.

Negara-dan-pesantren

Dengan demikian, perlua adanya formulasi dan inovasi yang dapat membangun dan memajukan kehidupan umat dari ketertinggalan. Baik kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan, ekonomi, teknologi, budaya dan lain sebagainya. Dan juga harus adanya sosialisasi dan penerapan pemahaman atas formula dan kebijakan yang dianggap lebih maslahat secara merata. Hal tersebut ditujukan demi terciptanya pemikiran nan dinamis dan gerakan yang strategis untuk membangun masyarakat yang maju dan bermoral sebagai pilar kekuatan bangsa.

Dan semuanya tidak akan terwujud tanpa adanya kerjasama dan saling mendukung dengan pihak pemerintah sebagai pemegang wewenang dan kebijakan. Atas dasar itu pula, syariat Islam telah memberi rambu-rambu bagi wewenang dan kebijakan yang harus dijalankan oleh pemerintah. Filosofi tersebut juga sejalan dengan kaidah fiqih:
تَصَرُّفُ الْإِمَامِ عَلَى الرَّعِيَّةِ مَنُوْطٌ بِالْمَصْلَحَةِ

“Kebijakan pemimpin harus berorientasikan kepada kemaslahatan rakyatnya”. [3]

Kaidah tersebut sangat urgen dalam membentuk konsep kebijakan yang diputuskan dan dijalankan pemerintah. Sehinggala segala tindakan yang dilakukan pemerintah benar-benar memprioritaskan kepentingan umum, bukan atas kepentingan pribadi maupun golongan tertentu.

Dari pemaparan singkat tersebut sudah dapat diambil kesimpulan bahwa Islam sebagai ajaran tidak hanya terbatas pada dimensi doktrinal keagamaan. Namun cakupan Islam yang sebenarnya lebih luas, yakni membangun peradaban masyarakat dengan prinsip kemaslahatan, termasuk menjadikannya sebagai spirit membangun kemerdekaan bangsa Indonesia. Sekian, waAllahu a’lam[]

Read Full Article