Dalam kehidupan Manusia tidak terlepas dari persoalan keilmuan untuk menjadi sumber utama sebagai pengetahuan dan bekal untuk meniti perjalan hidupnya kedepan, tanpa keilmuan manusia tidak bisa melihat mana yang Hak dan yang Bathil, oleh sebab itu manusia membutuhkan pendidkan untuk mendapatkan kesempurnaan hidup agar tidak buta akan pendidikan yang terus maju dan berkembang pada zaman sekarang. Dapat kita jumpai dari beberapa hadist dan kata-kata bagaimana pendidikan ini sangat penting dalam kehidupan serta harus terus dicari kemanapun bahkan menjadi kewajiban sebagai bekal yang tidak hanya didunia saja untuk bergaul dan beraktivitas sehari-hari agar tidak salah melaikan juga sebagai bekal diakhirat nanti. Adanya kewajiban untuk terus mencari ilmu telah dikuatkan dengan berbagai kalam hikmah diantaranya, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa “ mencari ilmu merupakan kewajiban bagi seluruh ummat muslim laki-laki dan perempuan “ serta kita dapat temukan dari berbagai ungkapan popular “ kalua kita ingin membuka keindahan jendela dunia membacalah, kalau kita ingin dikenal dunia menulislah “.

Problem dan Permasalahan

Berangkat dari kewajiban dan tuntutan untuk mencari ilmu untuk menghilangkan kebodohan, dinegara Indonesia ini memberikan berbagai metode pendidikan agar mampu membekali serta melahirkan anak-anak didik yang berkulitas dan Multi Talent, dapat kita jumpai perubahan dari  Mentri pendidikan dan kebudayaan Indonesia yang terus merombak dan mengupgrade dimulai dari Anis Baswedan hingga Muhadjir Effendy, hal ini menandakan bahwa pendidikan di Indonesia akan terus ditingkatkan. Terlepas dari semua itu terdapat bebagai persoalan yang sebenarnya harus dipecahkan terlebih dahulu, agar pemahaman terkait dunia pendidikan ini dapat diterima dan didukung sepenuhnya oleh orang tua atau wali murid, sebab tidak dapat kita pungkiri bahwa awal pendidiakn anak-anak Indonesia tidak dimulai dari yayasan, melaikan dari orang tua dan keluarga mereka sendiri, bayangkan yang terjadi ketika siswa atau anak didik kita mendapatkan nilai jelek pada mata pelajaran Bahasa Inggris, sementara ada mata pelajaran yang lain unggul semisal Ilmu pengetahuan Alam, maka yang terjadi adalah wali murid atau orang tua siswa tersebut akan memarahi anaknya sebab ada nilai mata pelajaran yang jelek, padahal kecendrungan anak untuk belajar yang sangat bagus tanpa paksaan, mereka akan menemukan dengan sendiri mata pelajaran apa yang menjadi favorit mereka, semisal Ilmu Pengetahuan Alam tadi menjadi kesukaan siswa, orang tua tidak mendukung dan mendorong untuk meningkatkan mata pelajaran tersebut, yang ada justru orang tua menuntut anak agar bisa setara dan berimbang terhadap semua mata pelajaran, padahal kalua kita perhatikan hal tersebut menyalahi kodrat ilahi, dimana manusia dilahirkan memiliki kemampuan dan kelebihan yang berbeda-beda serta terdapat kekurangan pada setiap masing-masing ciptaannya. Bayangkan dari semua mata pelajaran di Sekolah Dasar (SD) ataupun Sekolah Menengah Atas (SMP) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) orang tua selalu menuntut agar mendapat nilai yang bagus diantara semua mata pelajaran. Jika anaknya mendapat nilai yang jelek diantara mata pelajaran yang sudah ditempuh maka kemarahan orang tua akan diluapkan pada anaknya, hal ini membuat anak menjadi lemah dan tidak berkembang sebab harus serta dituntut untuk setara.

Berangkat dari hal inilah pendidikan diindoneisa tidak maju dan berkembang karena terlalu memaksakan kehendak terhadap anak, pada masa sekarang jika anak tidak naik kelas bahkan tidak lulus menjadi hal yang tabu bahkan memalukan hingga membuat hina bagi keluarga mereka, anak kecil bisa berjalan tidak semata-mata ia langsung berjalan pasti mengalami yang namanya jatuh dan sakit, anak kecil tidak langsung memiliki gigi, mau tumbuh gigi, anak kecil pasti sakit, namun yang terjadi sekarang orang tua selalu menginginkan anaknya untuk tidak sakit, yang jelas ini sudah menyalahi qodrat ilahi, ingat bahwa fitrah manusia harus berjalan seperti biasanya sebab inilah proses menuju taraf yang lebih baik. Sejenak saja kita melihat kejadian dimasa dulu, jika ada anak yang tidak naik kelas atau tidak lulus menjadi hal yang wajar, sebab orang tua dulu menganggap itu sebagai proses atau pelajaran agar tidak terulang lagi serta mempompa semangat untuk anaknya, tidak mungkin dalam 10 telur yang dierami induk yang sama, menetas pada waktu yang sama, ada kemunginan gagal menetas dan menjadi telur yang garang, berangkat dari analogi ini sistem pendidikan yang ada indonesia menjadi tuntutan untuk selalu sukses dan tidak boleh ada yang gagal, yang jelas ini sudah menyalahi fitrah kita selaku manusia yang belomba-lomba dalam kebaikan, pastinya tidak semuanya harus lulus dan sukses serta menjadi pemimpin semuanya.

Realita yang terjadi pendidikan kita membeli kegagalan agar keberhasilan diproleh, problem yang terjadi pada pendidikan kita terdapat pada banyaknya berdiri lembaga atau yayasan baru di Indonesia yang setiap tahunnya terus meningkat, dari inilah semakin jelas bahwa lembaga ini tidak lagi menjadi tempat untuk mendidik anak namun menjadi tempat ajang bisnis dan politik agar menghidupi kehidupan pribadi, terbukti dengan adanya sertifikasi dari pemerintah, jajaran guru dan dosen berlomba-lomba untuk mendapatkan sertifikasi tersebut, bayangkan secara emosional, yang jelas sudah tidak ada unsur keikhlasan didalam membingbing anak, dengan begini dapat dikatakan bahwa guru maupun dosen tidak memberikan bimbingan terhadap siswa nya dengan sistem mendidik namun mengajar, pertanyaan yang mendasar adalah apa bedanya mengajar dan mendidik? Jelas mengajar dan mendidik berbeda, mengajar hanya mentransfer ilmu dan pengetahuan guru terhadap muridnya tanpa mengembangkan dan melihat bagaimana cara mereka menerapkan ilmu dan pengetahuan tersebut baik dalam lingkup ruangan maupun diluar ruangan, yang terpenting murid itu mengerti dan tidak harus paham. Sementara mendidik ialah guru selain mentransfer ilmu dan pengetahunnya ia juga membimbing hingga murid itu memahami segala sesuatu yang telah ditransfer ilmu dan pengetahuannya hingga mengembangkan bahwa melihat suatu kebenaran tidak hanya dari satu sudut pandang saja, melainkan banyak sudut yang harus dilihat, contoh 1 + 5 = 6 dari perhitungan ini jika kita hanya mengajar tidak mendidik cukup sampai disini karena murid sudah mengerti dari hasil perhitungan angka, namun beda ketika guru mendidik terhadap muridnya ia akan memberikan perbandingan bahwa hasil dari suatu kebenaran tidak hanya dengan satu metode saja, terdapat pembagian dan perkalian untuk mendapatkan hasil yang sama, semisal 10 – 4 = 6 cara perhitungan yang berbeda namun hasilnya sama, dari sinilah guru tidak hanya mengajar namun juga mendidik dan mengembangkan dengan pola yang berbeda, perkembanga yang dilakukan adalah bagaimana guru memberikan pengertian sekaligus pemahaman bahwa untuk melihat suatu kebenaran tidak harus dengan satu cara ataupun sudut pandang yang sama, kalau ada metode atau rumus yang berbeda namun mendapatkan hasil yang sama hal itu sah-sah saja, dengan metode mendidik ini siswa dapat meningkatkan ilmu dan pengetahunnya serta karakter dari anak terus tumbuh.

Fakta yang terjadi atas berkembangnya karakter anak tidak didapatkan pada metode pembelajaran disekolah maupun lembaga pendidikan, justru berkembangnya karakter anak didik jika terdapat masalah atau konflik karena disitulah proses pendewasaan akan terjadi, namun hal ini sekarang menjadi problem yang sangat tidak wajar bagi lembaga pendidikan, jika ada anak yang tidak mengerjakan tugas dikenak marah besar-besaran, sebab tuntutannya seorang guru atau lembaga harus meluluskan anak didiknya, jika ada anak didik yang tidak lulus hal itu menjadi hal yang memalukan dan hina terhadap lembaga, sehingga para guru sesuai dengan bidangnya masing-masing menuntut untuk mendapatkan hasil yang memuaskan, hal tersebut justru memaksa anak-anak dengan mata pelajaran yang banyak dan beragam yang harus mendapat nilai bagus diantara semua mata pelajaran tersebut, bisa dibayangkan betapa pusingnya siswa yang terus ditekan dan dituntut untuk bisa menguasai semua mata pelajaran dengan hasil maksimal. Perbandingannya sekarang adalah satu murid harus menguasai beberapa mata pelajaran yang berbeda-beda, dapat kita lihat guru yang memberikan pada setiap mata pelajaran berbeda-beda, sementara murid tidak, ia harus menerima dan memahami dari semua guru yang memberikan mata pelajaran yang berbeda, yang jelas hal ini tidak wajar dan diluar batas, bayangkan anak yang masih dalam pertumbuhan sudah dipaksa memahami dari banyaknya mata pelajaran yang berbeda-beda, belum tentu setiap guru yang memberikan mata pelajaran yang berbeda mampu memahami semua mata pelajaran yang diberikan terhadap muridnya, dengan program seperti ini karakter anak terhenti serta bakat dan minta yang ada tidak akan didalami, sebab terlalu diberatkan dengan beban mata pelajaran yang sudah ada, apalagi terhadap siswa atau murid yang belum menemukan potensi, bakat, minat serta kemampuannya, hal ini justru membuat siswa maupun murid jenuh dan tidak dapat menemukan bakat, minta, serta kemampuannya. Dapat kita buktikan siswa yang baru lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) kebingungan untuk melanjutkan kejengjang berikutnya yang dihadapkan dengan berbagai jurusan yang sangat banyak. Mengapa terjadi kebingungan untuk menentukan pilihan untuk melanjutkan pendidikannya, sebab mereka terjebak pada berbagai pilihan jurusan yang sangat banyak, sementara potensi dan bakat mereka masih terselubung, justru yang ada pada menset atau pola pikir siswa dan orang tua, bangku kuliah bukan untuk mengasah potensi dan bakat yang sudah ada, melaikan bagaimana dengan melanjutkan pendidikan dibangku kuliah, mampu memberikan kemudahan nanti untu bekerja serta memiliki pangkat atau jabatan, hal ini sudah keluar dari jalur metode pendidikan sebab, pendidikan tidak pernah memberikan pemahaman bahwa dengan adanya kita sekolah, mencari ilmu akan mendapatkan drajat atau pangkat yang tinggi kelak, adanya pendidikan terutama dibangku kuliah ini untuk menghilangkan kebodohan dan mengasah potensi, bakat serta kemampuan manusia yang sudah ada. Namun yang terjadi berbeda, semuanya sudah beranggapan bahwa kesuksesan, pangkat dan drajat dapat diproleh dengan kita memiliki gelar sarjana (S1) padahal itu bukan jaminan mutlak, sebab semuanya ada pada kekuasan Tuhan yang Maha Esa, kita cukup berusaha dan beriktiyar serta melakukan semua kewajiban dengan tulus, selebihnya kita pasrahkan terhadap ketentuan sang Ilahi. Sudut pandang pada sisi lain adanya Universitas dan lain sebagainya tidak memberikan pemahaman bahwa adanya lembaga pendidikan ini tidak untuk mencetak anak didik yang bekerja untuk perusahaan atau instansi yang lain, sekarang yang terjadi pada taraf mahasiswa mereka selalu berfikir setelah lulus dibangku kuliah mereka akan bekerja pada suatu perusahaan besar atau instansi besar, mereka lupa bahwa mereka bisa membangun sendiri dan mampu lebih besar dari perusahaan dan instansi yang lain, dari berbagai persoalan semacam ini sehingga pendidikan di Indonesia ini tidak berkembang, selalu berputar pada mekanisme yang sama. Andai saja setiap potensi dan bakat anak didik terus diasah dimuali dari pendidikan dasar, betapa hebatnya anak didik dinegri ini yang bisa dipetakkan satu persatu atas kemampuan dan bakat masing-masing anak didik.

Solusi untuk Menguatkan Pendidikan

Sebelum menguatkan pendidikan kita, terlebih dahulu kita harus memecahkan persoalan yang sudah terjadi terhadap pendidikan kita agar lebih baik dan semakin kuat untuk mencerdaskan anak didik untuk berkontribusi terhadap bangsa ini. Kita harus melihat secara Intreaktif agar mampu memperbaiki sistem pendidikan kita ini tanpa harus merombaknya.

  1. Berikan Pemahaman terhadap orang tua atau wali santri selaku tempat pendidikan awal anak, serta yang mampu memberikan semangat terhadap anak, pemahaman yang harus diberikan kepada orang tua atau wali murid ini harus disosialisakan oleh para guru dengan memberikan beberapa pemahaman agar diterima dan dipahami oleh orang tua santri yang meliputi dari beberapa hal, dimulai dari pemahaman dalam mendidik anak tidak boleh ada paksaaan untuk mendapatkan hasil yang setara dari seluruh mata pelajaran yang sudah berjalan, apalagi mata pelajaran yang tidak diminati oleh anaknya, apalagi membunuh potensi anak yang sudah terlihat, hingga menyebabkan tidak berkembangnya potensi dan bakat anak disebabkan pemaksaan terhadap anak agar setara dari berbagai mata pelajaran disekolah. Kasus yang sering terjadi anak suka bermain music dan teater hal ini banyak ditengtang oleh orang tua sebab pemahaman beliau selaku orang tua tidak penting dantidak berguna kelak, akibat dari pemahaman tersebut orang tua melarang anaknya untuk mendalami bakat dan potensi tersebut, orang tua lebih memaksakan terhadap pendidikan formal disekolah, dengan pandangan lebih bermanfat dan bisa membuat anak lebih sukses kedepannya, padahal bukan jaminan juga ketika anak dipaksakan untuk terus senang terhadap hal yang tidak disukainya, akibat dari pemaksaan tersebut anak cendrung bingung dihadapkan dengan hal yang tidak disukai anak, maka dari itu pemerintah harus lebih memahamkan bahwa karakter dan potensi anak lebih jauh penting guna untuk membekali pendidikan selanjutnya, agar kelak selepas lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA) Maupun Madrasah Aliyah (MA) dan lain sebabginya tidak kebingungan dalam memilih jurusan yang akan ditempuh.
  2. Lembaga pendidikan harus memberikan fasilitas yang mewadai terhadapa anak didik pada bagian extrakulikuler, sekaligus menyediakan guru pembingbing pada setiap masing-masing kegiatan extra yang berbeda dengan guru mata pelajaran, biar sama-sama fokus pada setiap pendidikan anak. Dengan menyediakan fasilitas yang lengkap serta guru pembimbing terhadap anak didik, secara otomatis anak didik cendrung akan tetap dalam pengawasaan lembaga pendidikan, dengan metode seperti ini moral serta norma dari anak didik di bangsa ini akan tetap terjaga.

Guru dituntut untuk menumbuhkan ide dan gagasan anak dimulai dari Pendidikan Dasar, hal ini bertujuan agar anak tidak hanya terjebak pada mata pelajaran yang hanya diterima tanpa ada perkembangan, lebih diutamakan murid atau siswa yang harus bertanya dari pada guru yang memberikan soal terhadap murid atau siswa, sebab jika guru hanya mengajar lalu menanyakan mengerti atau tidak serta dilanjut dengan pemberian soal terhadap siswa atau murid maka dengan sistem yang seperti itu membuat anak terjebak dan berputar-putar pada materi yang sama tanpa ada perkembangan dari anak, tugas besar dari seorang guru bagaimana murid atau siswa harus cakap bertanya, baik dalam ruangan maupun diluar ruangan, sederhana saja jika guru selalu memberikan soal lalu siswa yang mejawab, cendrung siswa akan mencari jawaban yang sesuai dengan materi yang sudah diberikan, beda halnya jika anak bertanya dan selalu timbul tanda tanya, dengan sendirinya ia juga akan mencari solusi dan jawaban atas pertanyaannya sendiri, hal ini menjadi barometer atau tolak ukur terhadap kemampuan siswa atau anak didik. Disisi lain guru harus menjadi contoh atau cermin yang baik untuk anak didiknya, guru tidak hanya ditugaskan mengajar dan mendidik anak melaikan juga menjadi suri tauladan yang baik dalam segi apapun, dimulai dari tutur sapa, Bahasa, sopan santun, dan mempertahankan budaya sesuai adat didaerahnya masing-masing. Disamping itu guru tidak boleh memaksakan anak didik yang tidak memiliki minat dalam mata pelajaran yang ia ajarkan, sebab setiap anak pasti memeliki kecendrungan suka dan menyenangi mata pelajarab yang berbeda, jika ada anak yang tidak minat dengan mata pelajaran yang diajarakan oleh guru, maka bekali ia dengan motivasi untuk tidak mengabaikan mata pelajaran ini walaupun tidak disukainya, jadikan mata pelajaran tersebut sebagai bahan pengalaman atau tambahan pengetahuan untuk mendukung mata pelajaran yang diminatinya.

  1. Pemerintah harus memberikan batasan terhadap lembaga, yang artinya Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (KEMDIKBUD) harus memanfaatkan lembaga yang sudah terdaftar dalam dinas, dan tidak memperkenankan adanya pembangungan lembaga baru, sebab tidak dapat dipungkiri banyak lembaga pendidikan baru yang ada di Indonesia ini yang terus meningkat setiap tahunnya, hal ini memicu persaingan yang tidak sehat, sebab mereka mejadikan lembaga pendidikan sebagai ajang bisnis saja, terlebih yang paling parah sebagai kepentingan politik saja, dapat kita lihat di pelosok desa adanya lembaga pendidikan hanya digunakan sebagai ajang bisnis dan kebanggan terhadap diri sendiri agar tenar dimasyarakat, antisipasi dari adanya lembaga pendidikan yang sudah tidak sehat ini, pemerintah harus memperketat terhadap kebijakan pada setiap lembaga dengan mengatur ulang terhadap kurikulum pendidikan yang harus diterapkan oleh lembaga sekaligus peraturan ulang terhadap lembaga yang harus diakui berdirinya oleh pemerintah, dengan adanya aturan ketat terhadap lembaga pendidikan yang harus terus dikawal oleh kementrian pendidikan dan kebudayaan Indonesia ini dapat mengurangi adanya ajang bisnis lembaga terhadap pemerintah.

Pada sisi lain Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan harus mengurangi adanya kurikulum yang harus ditempuh oleh siswa, manfaatkan lembaga yang sudah ada sebagai lembaga pendidikan yang menumbuhkan dan mengasah pendidikan karakter anak dari bakat dan minat anak didik, agar melahirkan anak didik yang cerdas, bertalenta, serta menjadi anak didik yang terus menjaga dan merawat etika dan moral bangsa ini.