Artikel

Karakteristik Jiwa Leader Santri

Sesuai Al-Fiyah

Sebuah Opini, oleh; Moh Izzul Qornain

Tentunya tak asing lagi bagi kita tentang apa itu Al-Fiyah dan apa saja yang ada dalam kandungannya!

Kitab yang berbentuk nadzoman karya ulama’ masyhur (Ahmad Ibnu Malik) ini sangat banyak sekali yang menekuninya. Meskipun juga akan banyak sekali rintangan yang akan mereka hadapi. Seperti, dengan sering muroja’ah, menjauhi perkara yang buruk, memperbaiki sikap Dzohiriyah dan Bathiniyah dan rintangan lain semacamnya. Kendati demikian , dengan spirit belajar  yang menggelora mereka tetap pantang untuk tidak menghafal meskipun mereka tau betul dengan sedikit saja mereka terpeleset dan terjerumus kedalam lobang kesalahan maka segala yang mereka tekuni akan nihil tak dapat hasil. Maka dengan perspektif seperti itu, penulis mengopinikan bahwa kitab Al-fiyah ini merupakan kitab nadzoman yang sangat begitu keramat.

Seperti yang telah disimpulkan diatas bahwa kitab al-fiyah adalah kitab yang begitu keramat. Namun, pada tulisan ini tak hanya berhenti dalam pembahasan itu saja. Kita akan sedikit membahas tentang sisi dasar kandungan kitab al-fiyah. Kitab ini jika hanya dipandang dari satu sisi maka semua orang akan beranggapan bahwa kitab ini tak lebih hanya membahas gramatika berbahas arab dalam konteks nahwiyah dan shorfiyah seperti kitab-kitab biasa lainnya. Namun, jika dikaji ulang maka nadzoman yang terkandung dalam al-fiyah dapat dikaitkan dengan keadaan lingkungan sekitar serta banyak hal hal yang dapat ditemukan baik itu hubungan sosial, spiritual dan lain semacamnya. Seperti yang tertera dalam nadzoman dibawah ini;

وفي اختيار لايجئ منفصل <> إذا تأتى أن يجئ المتصل

Ma’na asal dari nadzoman diatas adalah; ‘Dalam sebuah ungkapan jika masih bisa menggunakan dhomir muttasil maka jangan menggunakan dhomir munfasil’. Namun, jika kita memandang dari dari sudut yang berbeda maka nadzoman tersebut akan memiliki ma’na yang beragam sesuai perspektif masing-masing yang akan mengopinikannya. Seperti contoh; ‘lebih baik makan langsung menggunakan tangan daripada menggunakan alat seperti sendoklain semacamnya. Namun, jika tidsak memungkinkan maka taka da masalah kita menggunakan sendok dan lainnya’. Ada juga yang mengkaitkan nadzoman tersebut dalam kriteria mencari pasangan. Seperti contoh; ‘Jika masih bisa dimungkinkan mencari pasangan dekat, untuk apa kita cari yang jauh-jauh’ maksud dari ma’na tersebut adalah anjuran untuk mencari pasangan (jodoh) yang sejalur. Baik dari sisi keluarga (kerabat dekat) seperti sepupu dan lain semacamnya, ataupun dari sisi pendidikannya (satu pondok pesantren). sehingga akibat dari kedekatan tersebut dari sisi keluarga maupun pendidikan, dapat menimbulkan keharmonisasian yang begitu kental, karna memungkinkan dengan adanya satu jalur pemikiran yang begitu sinkron. Sehingga, jarang akan terjadinya pro dan kontra pendapat dari masing-masing kubu.

Wallu a’lam

Kembali kepada pembahasan awal. Yakni, al-fiyah sangat banyak kaitannya dengan lingkungan sekitar. Maka, dengan demikian penulis akan sedikit memberikan tips bagi para santri bagaimana cara menjadi pemimpin yang baik berdasarkan al-fiyah. Seperti, yang tertera dalam nadzoman dibawah ini;

فارفع بضم وانصبن فتحا وجر <> كسرا كذكرالله عبده يسر

واجزم بتسكين وغيرما ذكر <> ينوب نحو جأخو بني نمر

Kunci sebagai pemimpin yang baik harus mempunyai empat karakteristik;

  1.  (فارفع بضم) Memperluas networking dengan cara aktif dalam beberapa perkumpulan atau organisasi, dan sering mengadakan musyawarah demi keberlangsungan target  dan tujuan organisasi. Sehingga dengan hal tersebut kita dapat mengembangkan skill dan potensi diri baik melalui listening (mendengarkan), speaking (berbicara), reading (membaca) dan writing (menulis).
  2.  (إنصبن فتحا)Menjadi pendengar yang bijak dan responsif. Dalam artian segala sesuatu yang dikeluhkan baik berupa saran, kritikan atau masukan dari bawahan kita terima dan respon dengan baik. Sehingga dapat kita jadikan motivasi sebagai pengevaluasian keberlangsungan kinerja kita kedepannya. Bukan malah menjadi pendengar yang pasif. Sehingga, menjadikan kritikan atau saran sebagai momok dari kegagalan yang dicapai. Namun meskipun responsiv bukan berarti kita bersikap premisiv dalam artian menampung dan mewujudkan segala hal yang telah disampaikan oleh bawahan. tanpa mempertimbangkan ulang yang akan terjadi kedepannya.
  3.  كسرا)وجر ) Dengan adanya point pertama. Yakni memperluas jejaring dengan sering mengadakan musyawarah. Maka, juga perlu adanya point ketiga. Yakni, dapat menarik kesimpulan dan mengambil sisi positif dari perbedaan pendapat yang timbul dalam musyawarah akibat perbedaan pemikiran. Maka, dengan demikian tidak akan timbul perselisihan akibat perbedaan pendapat. Karena, dengan adanya musyawarah sendiri, bertujuan hanya untuk menghasilkan mufakat atau kesepakatan bersama bukan malah menciptakan perselisihan.
  4. واجزم بتسكين)) Menjadi  pemimpin yang visioner sangat membutuhkan skill yang sangat mapan. Seperti, yang tertera dalam point nomor empat. Yakni, bersikap tenang dalam mengambil keputusan dengan tidak tergesa-gesa untuk menciptakan hasil yang baik. Karena segala sesuatu butuh proses tak ada yang tercipta dengan instan. Baik berproses dalam berpikir maupun berproses dalam bertindak.

Dengan penyampaian yang masih implisit untuk menjadi seorang pemimpin.  Maka perlu adanya sedikit tambahan agar bumbu yang dituangkan  tak masih terasa hambar. Tambahan tersebut seperti yang tertera dalam  nadzoman;

للرفع والنصب وجرنا صلح <> كاعرف بنا فإننا نلنا مناح

Menjadi  pemimpin bukan berarti keluar dari sifat kesantriannya. Dalam artian, predikat seorang santri harus tetap melekat pada relung  jiwanya dan tetap terpatri dalam hatinya. Meskipun  kita berbaur dengan orang luar. Sehingga budaya luar menjadi trend yang begitu aktual bagi kalangan santri. Kita tetap mampu menjaga marwah seorang santri yang berkarakter religious dan nasionalis. Sekalipun pangkat kita tinggi menjulang, martabat kita kokoh tak terguncangkan, atau bahkan rendah tak ada yang bisa dijadikan kebanggaan. Sikap kita sebagai seorang santri harus tetap terpatri dalam  jiwa tak lekang oleh waktu. Maka, dengan demikian penulis mengqiyaskan santri seperti dhomir mutakallim ma’al ghair (نا). Karna, dhomir ini dalam segala posisi tetap terbaca dan tak berubah sedikitpun, dan juga bersifat I’tidal atau  tawassuth dalam artian tidak berat kanan dan tidak berat kiri. Sebagaimana,sesuai dengan nilai ke-aswajaan.  Sehingga dengan sifat kenetralisasiannya mampu berdiri tegak tak tergoyahkan. Meskipun seiring berjalannya waktu lingkungan sekitar bermetamorfosis sesuai kemodernisasinya.

Maka, dengan pemaparan diatas yang sudah disampaikan secara eksplisit. Jelas sudah bagaimana karakteristik seorang  santri sebagai pemimpin yang baik sesuai perspektif al-fiyah.

Wallahu a’lam

المعهد مطالع الأنوارالإسلامي

شكرا خاص لرعاتنا

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Rasulullah saw bersabda : Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka akan Allah mudahkan jalan baginya menuju surga.
(HR. Muslim No. 2699)
ArtikelBahtsul Masail